Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari: Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari : Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Rabu, 26 April 2017

Tarianmu Kubayar

Balon
Dan ide yang sudah nampak hilang sudah
Banyak alasan
Berkelit dengan berjuta omong kosong
Sebenarnya diri ini yang lelah
Kau hanya diam saja
Kau hanya sesekali menari
Dan tarianmu itupun kubayar
Jika memang percintaan lain kudapat maka kutinggalkan dirimu
Kesetiaanku padamu tak pernah berkelas
Kau selalu ingin diikuti sedangkan aku bak kerbau beranting di hidung
Bila ada cinta yang lain
Sungguh sekali lagi kau akan kutinggalkan
Dan mungkin kelak kau akan mengiba cinta padaku
Tulusnya rasaku kini sedang kau abaikan
Ingin pecahkan saja balon yang melayang
Hingga suara meletusnya nyaring kau dengar
Dan teramat kelelahan bila aku saja yang menari

( Cikampek, 24 April 2017. Pkl. 16:38 wib)

Bukan Binatang Sesat

Jangan pernah berjanji bila tak bisa kau tepati
Keberanian yang seperti binatang
Berani sekedar mengandalkan insting dan otot
Berani yang tak gunakan logika
Ini bukan lirik lagu cinta tak berlogika
Ini tentang kehidupan penuh kenyataan
Sadarlah
Dunia tak akan pernah menunggu
Waktu terus berputar
Jangan hanya berlarian tak karuan
Atau duduk termenung
Ataupun tidur-tiduran terlentang
Manusia waras bukanlah binatang
Banyak yang berkata "bersenang-senanglah selagi muda"
Tapi tetap bersenang-senang bukan dengan merusak badan
Bergembira tapi tidak menyakiti alam semesta
Ada derai tangisan saat jiwa bergelimang hitamnya hidup
Lihatlah bila memang bisa melihat hati yang terkasih
Batin terkasih menjerit penuh luka saat manusia berlagak bak binatang
Konyol sekali
Saat manusia bertindak seperti binatang
Sadarlah
Kau ini manusia waras bukan binatang


Kawan Tak Sehaluan

Sedang menangisi
Sedang menyesali
Penyesalan yang datangnya terlambat
Begitu bodohnya saat menggugu perilaku kebodohan
Mata hati juga pikiran tertutupi arogannya jiwa
Kebersamaan juga kesetiakawanan yang rapuh dan salah
Sungguh menyesal
Tak pantas bila kawan sejati menjerumuskan kepada hal yang salah
Masih pantaskah disebut kawan?
Bukankah kawan sejati saling mengingatkan kepada kebaikan?
Bila kawan hanya berkumpul lalu melakukan tindakan bodoh merusak badan
Harus disebut apa kawan seperti itu?
Meninggalkan serta menjauhi saja
Bila nasehat juga petuah kebaikan terus ditolak
Sungguh hanya ingin berkumpul dengan keberkahan Tuhan
Dan sungguh ingin berkumpul kelak di surga

Senin, 24 April 2017

Syukuri Terkecilpun

Mencintai angin
Menyayangi udara
Kubisikkan besarnya rasa sayang ini
Lewat hembusan penuh gairah
Setiap manusia memang pernah patah hati
Patah hati mengajarkan agar menghargai setiap kebahagiaan
Sekecil apapun cinta serta bahagia maka syukurilah

( Cikampek, 21 April 20417. Pkl. 06:02 wib)

Sebuah Pilihan

Saat sebuah pilihan telah dibuat
Memilih untuk tidak mencinta bersama sebelum ada restu Tuhan
Berat terasa memang
Tapi Tuhan telah melarang bersama tanpa berTuhan
Ejekan, cacian bahkan gunjingan menghinggapi
Saat hendak meneguhi Tuhan begitu banyak aral
Biarlah akan dinikmati semua sebagai keindahan
Karena cinta datang pada saat yang tepat bersama Tuhan

Pekamu Cintailah Aku

Sayangimu
Cintaimu
Kasihimu
Rinduimu
Tapi kau hanya diam
Tak pekakah atas petanda cinta dariku?

( Cikampek, 22 April 2017. Pkl: 20:53 wib)

Liburan Dalam Benakku

Lagi di rumah saja
Liburan cukup tidur saja
Lalu nonton acara di televisi
Kalau tiba saatnya remote televisi jadi rebutan
Melangkah menuju kamar tidur berbaring dengarkan lagu-lagu berbalut musik
Dunia terasa indah dalam benak
Bila masih jua penat apa boleh buat pergi ke tempat game online
Sedikit dan mungkin sedikit saja bisa tertawa terbahak
Dunia terasa indah sesuai yang dipikirkan
Semua cerita tertata sedikit terbata dalam kata
Dunia liburan terindah dalam benakku

( Cikampek, 22 April 2017. Pkl: 11:21 wib)