Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari: Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari : Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Kamis, 14 Mei 2026

Tampak Benar

Semua tampak benar
Saat perilaku-perilaku terbenarkan olehnya
Meski perilaku-perilaku itu gerogoti sendi-sendi semesta juga Tuhan
Bagi penguasa juga pemilik kebijakan segala yang dilakukan tampak baik-baik saja

Saat nilai-nilai moral juga etika tergerus kerasnya hati

Jika bukan pada-Mu aku harus berharap pada siapa lagi ?
Berharap pada makhluk hidup harus bersiap kecewa juga bahagia

Ingin bersamai punahkan hasrat karena silih sayangi
Bukan karena terpaksai
Datanglah karena rasa
Sentuhi rabai setiap lekuk tubuh karena saling cinta

Jika bukan pada-Mu 
Pada siapa lagi kutautkan segala lelah?

Tuhan, aku mengiba dengan rendah diri
Begitu banyak ketakutan pada sendi-sendi jiwa ini
Bersujud pada-Mu dengan tertatih
Bertarung dengan nafsu-nafsu dunia untuk memuja-Mu

Maaf, jika doaku masih terbata
Aku butuh Kau, sungguh
Dalam hidup sebenarnya tak layak bersandar pada makhluk

Aku lemah !

Tapi saat semua tampak benar
Nafsu setanpun menjadi terlegalkan

Tuhan
Aku beriman pada-Mu

Tiada Tuhan selain Alloh

Jumat, 17 April 2026

Tiada Ketulusan

Begitu mudahnya melupa
Begitu mudahnya memporak-porandakan
Iya, hatiku yang bayangkanmu bersama yang lain

Definisi cinta tapi tak bisa milikimu ada padaku
Nyeri meski tersenyumku

Pertama terakhirku yakni kamu
Cukup padamu saja!

Aku memang bukan siapapun bagimu
Saat kau mulai merancu tentang kisah cintamu
Terlepas itu fiktif atau non fiktif

Tandaskan hati bahwa kau tak berhati
Meski kau telah mengetahui bahwa pertama terakhirku denganmu
Seolah kau lihai mempermainkan perasaan

Bahagia yg telah berdua
Masih merasa
Meski ujungmu tak denganku

Entah kebodohan apalagi yang idapiku?
Semalam termakan rayuanmu
Lantas pada remang semak saling menggenapi sahwat

Aku yang lemah pada pesona
Aku yang takluk pada sejumput libido
Meski pahami tubuhmu bukan aku saja yang kecapi

Tiada ketulusanmu
Darimu semua serba transaksional
Padahal saling melenguh menikmati

Ingin pergiku tapi entahlah !

Tulusku dibalas ujaran cemoohan pada pesan-pesanmu
Ingin tersinggunku tetapi menahan diri karena ketulusanku

Akhirnyaku memilih pergi meninggalkan

Cukupi dari kesakitan yang kau beri

Pamit !

Minggu, 05 April 2026

Tergores Kata 100 Juta

Dusta yang kau kemukakan
Dan aku percaya
Betapa naifnya aku terbutakan
Karena aku cinta

Ternyata selama ini aku bukan satu-satunya
Kamu miliki tempat lain untuk mengadu rasa

Aku yang ternyata belum cukup baik untukmu
Kamu yang menautkan rasa dengan yang selain aku

Betapa rapuh cintaku
Percayaimu hanya aku satu-satunya pelabuhan hasratmu
Namun kamu singgahi berbagai ruang hati tanpa aku

100 juta yang ibu katakan
100 juta untuk mengganti perjalanan suci
Sehina itukah percayai perkataan ibu yang berusia senja?
Hingga berlari mengejar pundi-pundi itu
Ada hatiku tergores saat tak mampu penuhinya
100 juta milikmu tak sebanding meregang nyawa saat lahirkanmu

Biadab kepercayaanmu
Agamamu dan agamaku jelas terpampang beda kini

Uang juga cinta menjadi pembeda kini

Lalu apakah ada foto-foto tentang kita?
Merekam jejak-jejak kisah yang terlalui
Jawabanku yakni "foto tentang kita tidak ada"
Karena "aku mengenalmu namun tentangmu sudah kulupakan"

Kamis, 26 Maret 2026

Tak Miliki Saling

Saat mereka bilang aku monyet
Apakah memang aku se-monyet itu?

Saat mereka bilang aku anjing
Apakah memang aku se-anjing itu?

Saat mereka bilang aku tai
Apakah memang aku se-tai itu?

Mereka barbar
Mereka sarkas
Mereka licik penuh tipu daya
Ada guratan-guratan ambisius hina pada gerak juga sorot matanya

Di depan puja-puji
Di belakang menghinakan juga menistakan

Mereka hanya respek pada manusia-manusia bergelar, berharta dan menguntungkan bagi kehidupan mereka
Jika sudah habis manisnya hanya air liur mereka yang nyata pada ludahi setiap hinaan yang tercurah

Erangan karena mengerang
Melenting karena menahan perih pesakitan

Ingin dihormati tapi tak pernah mau saling
Ingin dihargai tapi tak pernah mau saling

Saling yang hilang darimu
Respek yang lenyap padamu

Tuhan mencabut saling darimu
Dan serta-merta kau salahkan Tuhan

Biadab manusia tak bersaling!

Jumat, 16 Januari 2026

Empati Rasa

Tak semua harus dirayakan
Terkadang ada gempita yang harus disenyapkan

Bagiku yang menyukai keheningan
Bagiku yang tak menyukai keramaian
Hingar bingar hanya membuat semakin keheranan

Pesta pora 
Tak beriku rasa nyaman

Bernyanyi lalu berdansa
Berhimpitan serasa tak beri ruang aman

Hanya ingin hening
Hiburan serta tarian cukup dinikmati dalam ruang pribadi

Jika kamu miliki dunia mungkinkah bukan aku yang menjadi pelarianmu sementara?

Tak usah mengkhawatirkan
Semua telah digariskan
Tenang sajalah jika bersama Tuhan
Meyakini tak ada yang akan tersiakan

Jika kamu memang tak baik untukku maka akan alami terjauhkan

Tak ada tangisan
Hanya ada sebuah kelapangan
Ikhlas hati berujar tak ada kerugian
Semua dariku untukmu

Saat orang gila beri wejangan
Saat orang tersesat beri pencerahan
Saat orang jahat beri kebaikan
Saat koruptor beri sedekah

Masih pantaskah itu untuk Tuhan?
Atau hanya ingin terlihat "mewah" pada dunia?

Minggu, 21 Desember 2025

Kamu Bukan Rumahku

Entahlah, rumah mana yang akan kutuju?
Atau aku yang terlalu keras kepala pada kehidupan?

Melangkah pelan
Karena jalan hidup manusia berbeda
Nikmati saja tanpa perlu menjadi beban
Jika rumah yang kutuju hanya sekedar singgah
Maka kuterima
Tak mengapa meski dulu berharap teramat banyak pada rumah itu

Bukan salah rumah itu
Tetapi ada segelintir racun yang memaksakan maunya
Begitu tak tahu malu
Meski usia semakin menua

Ingin membawa 2 permataku dari rumah tanpa respek itu

Karena kucinta tak kusesali
Karena kusayang tak kutangisi
Tetapi dusta-dusta juga berbagai alasan buatku mengerti
Dia yang sedang merasa sendiri juga sepi

Saat mencintaku padanya penuh upaya
Dia yang sengaja terus membalikkan fakta
Saat merinduku selalu berusaha hadir juga ada
Dia yang menghujat birahiku bak monyet katanya

Saat semilyar nyeri atas perilakunya mencoba bertahan
Tetapi jika terus berulang maka menjadi tak tertahan
Katamu "rasamu merupakan kerahasiaan"
Tersadar saat dirimu berujar "miliki kawan!"
Melepaskan
Carilah penghibur kesepianmu, silahkan!

Tak menyesali segala yang kuberi padamu
Meski dirimu tak pernah memberi arti
Tak menangisi semua langkah menuju dirimu
Meski dirimu tak menghargai perjalananku

Menghilangmu kini mungkin mencari penghibur baru

Kukira dirimu rumah
Tapi ternyata hanya singgah sementara
Dirimu sama saja ternyata
Dirimu bukan rumah hanya tempat persinggungan tak menguat rasa

Tak mau lagi tersakiti
Rasamu hanya sandiwara
Saat bersama kau bak mayat hidup yang sedang bercinta
Aku rindu tapi tak mau terus dibohongi

Kusangka dirimu rumah ternyata dirimu hanya manusia kesepian

Kamis, 11 Desember 2025

Masih Pantaskah Iblis Menggodaku?

Tinggalkanlah aku dedosa!
Tolonglah!
Menjauhlah dariku dedosa
Aku tak layak digaulimu

Lihatlah aku!
Sungguh tak layak digandrungi dedosa
Begitu banyak lemahku
Begitu banyak kurangku
Mengapa masih saja kau terus menggagahiku?

Aku tak sebaik ahli agama dalam ibadah
Aku tak sepintar ahli akademisi dalam berfilsafat
Aku manusia biasa yang sekuat daya jauhi dedosa
Maka tolonglah sekali lagi!
Carilah lawan sebandingmu untuk di goda
Jangan aku!

Aku bukan selebritis
Aku bukan tokoh masyarakat
Aku bukan pesohor
Aku hanya manusia biasa
Tak malukah iblis menggodaku dengan dedosa ini?

Aku tak mau terus berkubang lumpur maksiat
Maka tolong, enyahlah dedosa!
Aku hanya orang biasa saja yang tak miliki kekuasaan
Masih pantaskah aku kau goda dengan dosa-dosa?
Manusia selemah dan sehina ini?
Yang tak ada daya upaya hanya bernaung pada belas kasih Tuhan

Maka, tolong jauhi aku dari dedosa
Aku hanya ingin dekat dengan Tuhanku

Dengan segala kefakiranku
Masih pantaskah iblis menggodaku?

Jika iblis masih menggoda dengan segala kefakiran
Maka jelaslah sudah
"Iblis musuh yang paling nyata untuk manusia"