Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari: Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari : Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Sabtu, 09 Desember 2017

Blokir Nomormu

Nomor-nomor teleponmu telah kublokir
Aku hanya ingin melanjutkan kehidupan tanpa bayangmu
Namun seringkali kulihat daftar blokir telepon itu
Adakah panggilan darimu?
Adakah kau hubungiku terlebih dahulu?
Aku yang sampai kapanpun tetap merindu
Darah lebih kental dari apapun di muka bumi ini
Hanya saat ini sedang tak mau bercengkrama denganmu
Tabiatmu yang seolah Tuhan dijadikan senda-gurau juga kamuflase belaka

Sungguh ketakutan kehilangan iman
Kusadari iman ynag kudapati ini tak mudah
Terjatuh lalu terbangun lalu bangkit demi iman
Disinipun aku berjuang demi iman

Kucari lingkungan tidur nyaman demi iman
Karena bersamamu lingkungan tidurku bersetan

Blokir nomormu terbaik saat ini
Bila hendak berbincang maka di hari akhir saja
Saat semua jujur terkuak

2 Ruang Berbeda

Di ruang baru ini hari-hari terasa panjang
Terasa sekali merajuti temali kehidupan
Berbeda sekali saat berada di ruangan sebelumnya
Ruangan yang waktu seolah memenggal kepala
Walaupun semua ruang sama saja tanpa hadirmu
Hanya mencoba senantiasa berkomplementasi dengan Tuhan

Menunggu dijamahi Tuhan
Seperti Muhammad melalui Jibril
Seperti Musa di sebuah bukit

Dalam secarik kertas menulis doa pengharapan pada Tuhan
Karena sungguh takut kehilangan sebentuk iman

Benarlah petuah-petuah para khotib pada sela-sela khutbah Jum'atnya
"Nikmat yang paling besar juga berharga yakni nikmat iman dan "aslama""

Tuhan,
Dalam ruang walau tanpa sedarah karena berbeda pandangan iman
Kuatkanlah iman pada jiwa
Berikanlah reaksi terbaik berTuhan untuk para setan

Terus Belajar

Belajarlah,
Karena dunia merupakan ilmu untuk dipelajari
Pada tanah, batu, pasir, pepohonan, binatang, awan, matahari, bulan, bintang dan segala yang terhampar pada semesta

Merendah dirilah di hadapan Sang Pencipta
Merendah hatilah pada semua ciptaan Sang Pencipta
Tiada yang digariskan Tuhan menjadi sia-sia
Semuanya selalu ada pembelajaran bagi peiman

Karena Tuhan begitu mandiri tak butuh teman, kerabat dan penghormatan
Semua ciptaan Tuhan sajalah yang benar-benar membutuhkan Tuhan
Dalam sujud pada doa bersimpuh memohon kasih sayang Tuhan

Mungkin saat berjauhan akan terasa lebih bermakna arti memiliki tulusnya sebuah pelukan
Bukan topeng yang selalu digadang-gadang menjadi tameng
Bukan bersembunyi di belakang sebuah nama besar manusia

Belajarlah,
Hingga kematian datang

Kamis, 07 Desember 2017

Menolak Demi Cintaku

Jangan kau minta diriku menulis puisi untuk dirimu
Puisi cinta tentang dirimu dan dirinya
Tanpa ada diriku, kebersamaanmu dengannya menyakitiku

Ibarat seorang penguji dirimu padaku
Dan diriku sungguh tak bisa menolakmu
Tapi diriku sungguh tak bisa menulis puisi cinta dirimu dan dirinya

Bila kutulis puisi cinta untukmu 
Ketahuilah,
Puisi cinta itu tentangku dan dirimu tanpa dirinya

Puisi Cintaku Tak Terjamah

Karena dirimu puisi jiwaku
Mencintaimu membuatku mampu meranumi kata
Memetik nurani menjadi hidangan penuh makna
Kau mungkin tak pernah tahu
Semua puisi cintaku ini tentang dirimu
Dan baru kusadari hari ini
Terlalu banyak puisiku tentang cinta tak bersambut
Karena inginiku hanya bercinta denganmu

Dalam gelap lalu mempekat
Menari dalam rintihan kenikmatan
Bukan sekedar cinta sesaat
Jemari merasai setiap lekuk tubuh
Dan inilah imajinasi liar mencintaimu

Hingga saat inipun kau tak membalas rasa
Perihnya menjagal jantung jiwa

Katakan saja cinta
Tuliskan saja rasa
Hanya berupa rangkaian abjad
Kata "cinta" namun penuh makna

Karena jenuh menulis puisi cinta tak berbalas
Karena ingin menulis ......

Menulis puisi tentang dirimu yang mencintaiku

Kau Tak Bisa Seenaknya

Kau tak bisa seenaknya menulis kisahmu tanpa aku
Kau tak bisa seenaknya membagikan gambar hidupmu bersamanya
Kau tak bisa seenaknya tak memperdulikan perasaanku padamu sedari dulu
Atau kau memang tengah membuatku cemburu dengan sengaja?

Kukatakan "aku cemburu"
Tapi tersadar terhenyak seketika
Ternyata cemburupun aku tak berhak
Ada guratan kesedihan bila mengingat kau tak jua peka

Perasaan yang kutanam sejak dulu padamu lewat sebait kalimat
Memang bukan perkataan cinta karena khawatir kau menjadi jauh dan berbeda sikap
Cinta yang kukemas padamu berupa sekelebat kata
Atau memang kau tak jua merasa?
Karena hidupmu bukan hanya berkutat pada diriku saja

Tapi mengapa dalam kehidupanku hanya ada dirimu?

Menanti Kepastian

"Matahari malam ini" bersinar indah
Tapi diri menanti temaramnya "rembulan pada esok pagi"
Keserakahan pemilik kekuasaan
Berkata lagi bertindak semaunya
Lalu meringkih seolah dirinya yang tersakiti
Sudah hilang kemaluan menindas yang tak miliki persembunyian

Penis yang sengaja di pajang panjang-panjang
Vagina yang terus terbuka mengoceh tanpa rem

Singa-singa yang berjiwa dungu bak keledai

Tak cukupkah yang tersurat?
Tak takutkah yang tersirat?
Ada hari penghitungan amal kelak