Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari: Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari : Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Kamis, 17 Agustus 2017

Pemasungan Identitas

Dalam sedih ada bahagia
Menari saat para penyamun pergi
Rindu ayah
Rindu ibu
Saat kerinduan terhalang
Para penyamun yang penuh dusta

Bahasa cinta yang merangsang
Belas kasih yang ingin berbalas
Saat keluguan menjadi permainan
Saat terkuak semua tabir kesetanan
Merajang sebentuk kasih penuh belatung
Kasih sayang karena pemasungan

Rantai membelit hati juga badan
Tercekoki karena pemberian harta
Tak berkutik

Rabu, 09 Agustus 2017

Sang Telunjuk

Saat sang telunjuk mengingatkan
Sang telunjuk tak berhak mengingatkan
Lalu terucaplah "silahkan pukul!"
"silahkan pukul!"
"silahkan pukul!"
"silahkan pukul!"
"silahkan pukul!"
"silahkan pukul!"

Hanya orang gila saja yang mengajak bertikai
Dan hanya orang gila saja yang menuruti ajakan pertikaian

Berlogikalah
Saat sang telunjuk menunjuk wajah
Ingatlah akan kelakuan busuk-busuk
Bertahun-tahun
Menari bersama setan-setan

Bumi melihat
Alam melihat
Saat kebusukan terbuka maka tak ada manusia yang bisa menutupi

Masih membeku nurani
Dan sang telunjuk akan menggugat kelak di hadapan Tuhan
Saat semuanya tak berdusta dan tak memutar-balikkan fakta

Menanti dan sungguh menanti saat masa penghakiman Tuhan

Punggung Nama Besar

Aku berlari setiap ada masalah
Berlari saat lakukan dedosa tak berTuhan
Karena punggung ayah begitu bernilai
Ayah yang mempunyai nama besar

Perbuatanku mencabuli istri orang walau aku sudah miliki istri
Ucapanku menghina atasanku walau aku masih bekerja untuk atasanku sekarang
Aku akan bersembunyi di balik nama besar "ayah-ayah"ku
Karena setiap ada masalah lebih nyaman bersembunyi

Manusia-manusia yang tampak bodoh lagi dungu di mataku
Manusia-manusia yang tak berkelas dan tak layak memberi nasehat

Aku yang benar
Aku yang miliki kuasa

Hidup ayah ibuku karena aku sekarang

Dan gampang saja bila itu semua menurutku aib-aib
Maka agama akan kujadikan tameng pembenaran
Lalu perbuatan dan ucapanku tetap akan girang-gembira kulakukan lagi
Karena setan-setan seolah menari-nari penuh candu berarak bersamaku

Aku yang selalu benar

Karena duniapun tak berhak memberi nasehat padaku
Akulah "anak tuhan"

Aku dan punggung nama besar ayahku

Kau Masih Membekas

Hampir setahun kau pergi
Namun bayanganmu masih membekas
Pergumulan dalam pembicaraan
Saling memberi nasehat dan semangat
Keseruan dalam obrolan yang "tak berkelas"

Ada tawa juga cerita

Kepergianmu karena memang telah tiba masanya
Namun jalinan kita berdua tak akan pernah lengkang

Memang tak selalu tertawa saat bersama
Tapi itulah kehidupan

Kini saat ingin bertemu tak semudah membalikkan telapak tangan
Dirimu yang terkejar-kejar oleh waktu
Diriku yang terkadang lupa memiliki dirimu

Kau masih membekas hingga kini

( Untuk AY, semoga Tuhan selalu menaungi langkah kita berdua)

Minggu, 06 Agustus 2017

Mata Keranjang

Matanya tajam melihat
Sorotnya menjengkelkan
Gerak tubuhnya membuat kesal
Dirinya bak "pemesum berjalan"
Walau aroma keTuhanan terbaju
Aroma busuk mata keranjang menyeruak
Bau busuk pornografi terpampang jelas di muka
Air liur menetes bak anjing liar
Terus mencari mangsa untuk bermesum
Menerjang bahkan menerkam siapa saja yang mengingatkan

Dirinya seorang mesum sejati
Dirinya Don Juan tak bermartabat

Seekor mata keranjang

Jujur Aku

Jujur aku takut kehilangan
Padahal sungguh mengerti bahwa "angin" tak bisa terpegang
Melihatmu kemarin dan tak tahu apakah marahmu sudah reda?
Tak tahu juga apakah kemarin mata juga hatimu melihatku?

Kemarahanmu padaku bak belati
Menancap lalu terlepas dan meninggalkan bekas

Dirimu marah karena puisiku
Dirimu tak nyaman karena puisiku terinspirasi darimu

Kau pergi
Kau menjauh

Dan jujur aku kehilanganmu

Jumat, 04 Agustus 2017

Kelamnya Hatimu

Sungguh jahat bila kau itu saudara sedarahku
Dan terucap lalu terbersit di hati kau ingin melihat saudaramu menderita
Bukankah sebagai manusia berTuhan tak boleh mendoakan keburukan?
Lalu ada apa denganmu?
Apakah kehidupanmu suram lalu berimbas pada hatimu hingga kelam?

Catat kata-kataku
“Aku hanya mengingatkan dan tak ingin sungguh melihat hidupmu sengsara”
Tapi seperti katamu “manusia ada yang mendengar dan tidak mendengar”
Mungkin saat ini kau merasa rendah diri dan malu
Aku sekarang pergi menjauhimu karena tak mau terus berkonfrontasi

Bila tanpaku bahagia hidupmu maka jalanilah
Karena bagiku terasa sesak lagi menyakitkan tak bercengkrama
Jalanmu maka bertanggung jawablah pada pilihanmu
Tak logis juga tak masuk akal mencari para pendukungmu
Saat jasamu ingin berbuah pamrih maka tercatatlah kelamnya hatimu

Kau bukan lagi manusia tua bila tak respek pada semua kata indah
Terkadang kata-kata indah tersampaikan secara perih
Terkadang karakter manusia terlanjur perih saat berucap
Kau saudara terkelam dengan jiwamu yang suram

Saat berkata di mulut dan terbersit di hati “ingini hidup saudaramu berantakan”