Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari: Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari : Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Minggu, 22 Mei 2016

Pesta Sepi

Pesta
Hanya bersenang-senang tanpa hiraukan aku
Terus menari hingga musik berhenti
Makanan serta minuman berhamburan di udara lalu berserakan terinjak
Pesta yang memuakan

Hingar-bingar menjadi candu
Aku yang berdiam dalam sepi di keramaian ini
Melihat dari kejauhan
Tanpa kuasa untuk memeluk
Asap mengepul di langit terbatas
Bising lalu pusing merancu di setiap pojok ruang

Sayang kamu
Sangat mencintaimu

Sudah kukatakan aku mendambanya
Dia tak menjawab karena diam saja

Lelah menanti lalu dunia ini seolah diam
Selalu dan terus bertanya
Bila berhias dengan hasrati rasa maka bahagiakah hidupku?
Khawatir dengan cinta
Gamang dengan sayang
Berdebar dengan hasrat
Sayang kamu tapi sadari tak mudah membuatmu memeluki rasa

Malam setiap malam kesusahan memejamkan mata
Membayangkanmu mendekap rasa ini
Ingin cicipi rasa hasrati bersamamu

Pesta ini terasa hampa dan sepi bagiku

Perasaanku Padamu Seolah Abadi

Seberapa dalamnya kumencinta
Seberapa besarnya kumenyayangi
Hatimu juga rasamu milikmu sendiri
Tak mungkin memaksa percintaan
Kasih sayang tak layak dipaksakan
Cinta ini menunggu restu Tuhan
Percuma mencinta tanpa Tuhan

Jangan pernah mencariku
Jangan pernah memanggilku
Terlalu banyak rasa sakit yang mendera
Tangisan semakin menahun bertambah berwindu
Hampir saja terjebak dengan rasa yang menipu
Dan masih belum bisa seutuhnya melepaskan
Jujur dan tak mau dusta
Sungguh masih sangat mendambakanmu

Shalatlah Pada Rumah Tuhan

Kehilangan teman berTuhan
Tak mudah temukanmu dalam rapatnya barisan pemujaan
Dirimu bak sebuah jarum di tumpukan jerami
Ingin bersamamu kelak di surga

Langkahkan lagi paksakan sujud menghamba di rumah Tuhan
Akupun terkadang melemah
Namun ibadah ini pantas dipaksakan
Temui aku pada rumah Tuhan
Kelak berharap kita bertemu di surga
Akupun yang terus memaksa dalam penyujudan bersama

Di rumah Tuhan ini berharap terus memuja Tuhan bersama
Saling menguatkan dalam memuja-Nya dengan dedoa
Kita insan yang lemah lagi hina di hadapan Tuhan
Sujudlah bersama merendah dalam barisan pemujaan ini

Lelaki sejati hanya para penyujud taat dalam rapatnya barisan

Tiada Cinta Tanpa Ikrar Iman

Tuhan melarang bercinta tanpa iman
Tiada cinta tanpa ikrar berTuhan
Semua cinta yang tampak benar hanya tipu daya setan
Sakit dan perih menahan dan terus mencoba bertahan
Dalam kesendirian masih mencoba beriman

Entahlah sampai kapan
Karena hanya manusia biasa yang tak luput berdosa

Dalam perih dunia coba tak bercinta tanpa iman
Walau begitu banyak goda membuai
Walau begitu banyak sinis saat bertahan beriman

Tiada cinta sebelum ikrar iman

Yakinilah
Peluklah iman dengan kesungguhan

Sabtu, 14 Mei 2016

Maaf Kucintaimu

Aku sayang
Aku cinta
Semua puisi ini untukmu
Maaf, buatmu marah

Bila kau tak mau bicara denganku maka aku akan diam saja
Hanya bisa berharap
Hanya bisa melihat
Hanya bisa terus membayangkan kau memelukku
Maaf, atas sayangku padamu

Mengerti Saat Kau Diam

Tamparan yang meyakitkan saat kubicara kau diam
Hakmu untuk tak bicara
Satu yang tak bisa kau cegah
Aku yang akan selalu cintaimu

Dalam sikap diammu ada aku yang mencinta
Dalam tak bicaramu ada aku yang menyayang
Dalam mulut terkuncimu ada aku juga yang selalu memperhatikan
Aku menunggumu selalu
Selalu dalam menanti kau tuliskan sebaris kata cintaiku

Lewati Kesedihan

Lewati depan rumahmu sengaja
Dirimu tergesa masuk rumah saat kulewat
Setelah menjauh kutengok ke belakang
Dirimu keluar kembali dari dalam rumah
Sedih di jiwa seolah kau tak mauiku lagi
Sejijik itukah dirimu padaku?

Maafkanlah atas pengakuan cintaku
Sekedar jujur tentang rasaku
Jangan tatap diriku dari cermin jendela rumahmu
Rangkul kasihku
Baluri rasaku dengan hasrat
Kau akan tahu besarnya percintaanku padamu