Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari: Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari : Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Kamis, 12 Oktober 2017

Pintu Penantian

Menantimu di belakang pintu
Menantimu di balik pintu
Tertidur lalu terbangun
Sungguh sudah tak tentu rasa
Bertanya-tanya menjadi raja
Degupan jantung berdetak cepat
Janjinya pada kedatatangannya
Datangkah atau hanya sekedar harapan bias nan abu-abu?
Hampir habis dan di ambang batas sabar

Lapar yang sengaja ditahan
Gerah yang sengaja berkeringat
Waktu terus bergerak
Kedua mata terus melihat jarum jam yang berputar
Datangkah dirinya mengetuk pintu?
Atau berjuta keinginan hasrat memadu asmara harus tertahan?

Dan ini sudah terlalu lama
Menyerah saja diriku
Bersandar di balik pintu
Dirinya hanya berikan bunga-bunga palsu
Dan jengah
Dan gilanya menikmati penantian ini

Penghambatmu

Perasa dan sungguh teramat merasakan
Tak mau menjadi "seekor penghambat"
Bila hanya menghambat impian-impianmu di dunia
Aku pergi menjauh
Kemasi saja semua tipu-muslihatmu itu
Dan tak mau mendengar lalu mengalami lagi
Aku bukan keledai bodoh

Jangan ganggu
Jangan umpat
Jangan caci
Jangan saling tanyai
Jangan terus-menerus mencari simpati

Lebih baik saling gugat kelak di hadapan Tuhan
Dan menunggu saatnya tiba
Dimana tiada lagi manisnya bahasa yang menjadi pemenang
Yang ada hanya satu bahasa yakni kejujuran

Jangan saling menghambat di dunia maka lepaskanlah

Jumat, 06 Oktober 2017

Perangkap Cintamu

Bukan ku tak merasa
Bukan pula tak miliki rasa peka
Mungkin telah kebal raga dan jiwa
Ulah bengal yang kucinta
Perangkapmu tentang cinta
Kurasakan tapi tetap kuterangsang
Kekesalanmu tentang rasa
Kubiarkan karena sangat ingin menikmati

Perangkapmu kurasa dan jelas tapi kuterangsang
Lalu kesalmu menjengahkan tapi kunikmati
Karena sungguh keterlaluan diriku untuk merengkuhmu erat
Dalam pelukan

Begitulah cinta
Begitulah sebuah hasrat
Keinginan untuk memelukmu erat
Merengkuhmu dalam pelukan
Kadang kau pergi lalu acuh dan menghilang
Dan diriku yang masih terngiang padamu

Marahi saja
Caci maki saja
Bila itu membuatmu merasa nyaman dan senang
Cintaimu tanpa perangkap cinta dariku
Dirimu yang terus-menerus menebar ranjau cinta

Coba hentikan dulu sejenak
Lihat diriku
Menunggumu dibawah rindangnya pohon jati
Menunggumu pada sebuah jalan setapak
Menunggu untuk mengecup mesra bibirmu

Berharap kau secepatnya berjalan
Temuilah diriku
Balutilah diriku
Tubuhmu menjadi penangkal semua perangkap ranjau cintamu

Sabtu, 23 September 2017

Malampun Menerima Kegelapan

Apa yang harus diratapi dalam kehidupan ini?
Semuanya telah berjalan sebaik-baiknya oleh Sang Maha Pengatur
Kecuali bagi para tak berTuhan selalu ada ketidakpuasan

Tiada tangisan yang harus disedihi
Tiada kebahagiaan yang harus ditertawai
Tiada kekesalan yang harus digelisahi
Tiada suka yang harus menjadi jumawa
Semua cerita kehidupan laluilah dengan iman

Karena malampun tak pernah mencerca menjadi kegelapan

Segalanya di dunia berjalan sesuai dengan takdir Sang Penentu Takdir
Terbaik dari Tuhan walau terkadang sulit untuk dimengerti
Karena bukankah Tuhan akan memberi rezeki dari arah yang tak disangka-sangka?

Percayalah
Dekati Tuhan dengan segala perserahan diri

(inspirasi dari status medsos teman FM)

Tangisanku Membentur Karang

Kau tak akan mampu mengerti
Sepanjang waktu terus mencari
Saat kau putuskan uuntuk berhenti
Kau beralih seolah berlari menghindari
Kau acuhkan diriku yang sedih sendiri
Aku yang tak berhenti mencintai
Sepanjang masa terus mencari
Sepanjang waktu mencoba mengulik keberadaanmu yang tak lagi di sisi
Sempat kutemukanmu namun belum yakini
Dan kutemukan dirimu kini
Tapi kau benar-benar menggurat lukai
Sapaanku tak digubrisi
Dustaku untuk dekatimu tak kau terima lagi
Dan sungguh semua membuat perih di hati
Setidaknya bicaralah bila memang tak kehendaki
Bila dirimu muak padaku maka tuliskan setitik benci
Aku yang selama bertahun-tahun mencari

Saat kau tak peduli
Tangisanku membentur karang teguh menjulang tinggi
Hanya ingin mendengar desah lalu bicarai
Hanya ingin mencium aroma tubuhmu yang dulu mewangi
Hanya ingin melihat paras wajahmu yang dulu memikat hati
Jangan seperti ini
Kau menjauhi
Terberangus tercerabuti

Bicaralah kekasih hati
Sandarkan kepalamu di bahuku lagi
Walau kau berusaha lupai
Aku akan selalu bertelepati
Bergumam dedoa terbaik untuk diri
Namamu terkatup dalam gigi
Kau yang sampai kapanpun tak terganti
Inilah sekelumit percintaan yang belum usaii


Selasa, 19 September 2017

Bersua Tapi Belum Bahagia

Telah kutemui lagi
Kisah cerita yang ingin terajuti
Dirimu yang memang sedari dulu kuyakini
Namun baru saat ini menjadi bukti
Bicara dalam logat tersembunyi

Kadang ada airmata yang tertahan
Kadang ada sembab yang menekan
Tentang perasaaan
Sejuta bintang dan bidadari di kahyangan
Terngiang sebait tentang perkataan

"Besok aku sudah tidak di sini"
Dan ucapan itu mengiris hati
Tersenyum datpi sedih di sanubari
Sepanjang tahun memikirkanmu saban hari
Semoga dirimupun sama merasai

Kini saat berjumpa
Dirimu seolah melupa
Bak hancur jiwa
Berantakan sukma
Inilah tentang kusutnya sebuah cerita cinta

Sabtu, 16 September 2017

Tak Berniat Merebut Kekasihmu

Sungguh tak pernah terpikir untuk merusak percintaanmu
Bila dirimu tak mencintaiku maka bahagialah dengan yang lain
Tak pernah terpikir menjadikan kekasihmu menjadi kekasihku
Karena dirimu tetap menjadi permata bagiku

Sungguh jahat bilamana diriku mencoba merebut kekasihmu
Sungguh tak berhati bilamana diriku ingin melihat kau menangis

Tahukah kau?
Mengenangmu saja telah membuat tangisanku pecah
Dan tak akan pernah kumembuat airmata menetes di pipimu
Kesedihan bila melihat kau tak bahagia

Jangan pernah berkata lagi "aku akan merebut kekasihmu"
Kukatakan "tak berniat merebut kekasihmu"
Karena sungguh melihat senyum indahmu mejadi kebahagiaan bagiku

Namun bolehkah bila kudengar ceritamu dari yang pernah bersamamu?
Bolehkah diriku memelukmu dari mantan-mantanmu?
Karena sungguh dirimu telah menjadi sebuah kerinduan bagiku