Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari: Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari : Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Sabtu, 23 Juli 2016

Tokoh Kesayanganku

Kamu begitu menakjubkan
Pesonamu membuat kilau pada kedua mata
Takjub melihat indah dirimu
Kurasa aku telah cinta padamu
Namun mungkin cintaku yang terlalu besar
Kamu tak terlalu menyukaiku
Tak apalah
Aku yang akan menjadi pecinta terbaikmu

Dalam derai tawa terlintas wajahmu
Dalam derai sedih terbersit parasmu

Hari-hariku selalu membawa sebongkah cinta padamu
Dan sepanjang hidup seolah hidupku tak bergerak darimu

Kau terus meledek seakan hatiku sekuat baja
Bisakah kau rasakan sebetapa kuatnya rasa sayangku ini padamu?


Nikmati Rasa Lelahku

Negeri indah berada dalam genggaman jemari
Angkasa membentang nan membiru bertabur awan berarak
Jatuh cinta ini padanya dalam setiap helaan nafas
Wakili rasa terindah lalu lenyaplah kecapaian
Aku mencintai dan tak peduli berbalas ataupun tidak
Nikmati perasaanku padanya walau dirinya tak tahu

Rasa yang kubingkai indah dalam dada
Antara bahagia dan sedih bercampur melebur tak berwujud
Demikianlah kecintaanku padanya teramat tulus
Inginkan dirinya namun sadar dan tahu diri
Tidak mungkin menggapai cinta bila dirinya tak kehendaki
Yang kurasakan kini yakni selalu menyimpan namanya dalam langkah
Aku tahu akan terasa lelah namun biar kunikmati lelah menyayanginya

Lubang yang terbuka dalam jiwa terasa nyeri tanpanya
Usah merasa sedih karena ini pilihanku
Terus mencintainya walau dirinya tak merasai rasa
Hatiku akan terus mendambanya
Firasat ini berdetik bahwa dirinya tak akan termiliki
Izinkanlah aku untuk terus didekatnya merasakan sentuhan tak sengajanya

Dustai Fenomena Waktu

Derita sepanjang hidup tak bersentuhan denganmu
Hilang selera menikmati indahnya dunia karena tanpamu
Elegi seorang pendosa di hening pertengahan malam memanggilmu
Video beragam humor tak lagi membuat tertawa
Inilah diriku yang teramat susah tak memelukmu
Erangan pesakitan seolah tiada habisnya

Faktanya aku terluka tapi selalu coba tersenyum
Ulik selisik hati terluka coba disembunyikan
Tiap sudut jalan seakan baumu tercium panca indera
Rabalah hatiku ada goresan-goresan luka tentang cintaimu
Iringi saja setiap perjalanan ini agar kau tahu seberapa besar cintaku padamu

Waktu yang bergerak seakan mati tapi tetap menjalani waktu
Untukmu ada cinta dariku walau tiada sambutan darimu
Lelahnya jiwaku namun sungguh tak berdaya
Aku mengerti bahwa kau berhak mencintai siapapun juga
Namun kupinta selipkan saja aku di sisi kecil hatimu
Dalam doa selalu kupinta agar dekat denganmu selalu
Andai kau mampu membaca isi hatiku tentang mencintaimu
Rakit cintaku akan mampu bersandar di pelabuhan hatimu
Inilah tentang cintaku yang tersenyum kelabui runcingnya waktu

Jumat, 22 Juli 2016

Enyahlah Dari Hadapanku

Harus berpura-pura tak cintaimu
Harus berpura-pura menyuruhmu pergi dari hatiku
Pergi dan aku tak mau melihatmu lagi

Tahukah dirimu
Aku tertawa di hadapanmu
Tapi aku menangis di belakangmu

Cinta ini tak ada dalam rumus Tuhan
Cinta ini penuh kebrengsekan
Membenarkan semua jalan seolah ini wajar

Padahal tanya nurani sendiri
Ini cinta yang salah
Tak ada cinta tanpa Tuhan

Aku harus dusta tak butuh kau
Aku bohong saat bilang tak cintaimu
Karena aku sangat mencintai Tuhan

Bila Tuhan menghendaki tiada jalan untuk cinta ini
Aku akan mencoba bertahan berTuhan saja

Menyuruhmu pergi merupakan dusta dari hatiku

Untuk kebahagiaanmu
Pergilah dari rasa cinta yang membelengguku untukmu

Pergilah
Dan jangan kembali

Dan aku bersedih saat kau percaya semua kata-kataku
Kau pergi dan tak kembali

Biarkanlah aku mati berTuhan
Sakit di dunia sementara

Tuhan, ini menyakitkan
Berikan aku kekuatan dari-Mu

Membenci Pada Hasratku Ini

Tak terlalu berharap pada ini
Ini seperti dongeng saja
Cinta yang kurasa teramat dalam
Tapi kubelum tahu cintamu padaku
Sudahi saja dengan saling percaya
Mempercayaimu dengan menyimpan cintaku sedikit di hatimu

Rindu pada seseorang
Fotonyapun tak kupegang
Hanya mencinta dalam bahasa

Seharusnya tak mencintaimu
Seharusnya tak menyayangimu
Tak kuat menahan cabikan rindu
Imajinasi yang liar lagi nakal
Dan tak berkutik dalam kehidupan

 Haruskah pergi darimu?
Namun tak kuat dan tak bisa
Tolonglah, berikan aku kehangatanmu

 Aku tak boleh mencintaimu lagi

Dan ini yang dari dahulu kutakutkan
Membenci diriku sendiri

Rentetan Mencintai Akhirnya Menyerah

Riuh reda gejolak penuh rasa dalam dada
Angin yang tak mapu lagi berhembus karena kecapaian
Ngawur sekali gerak tubuh yang tak seirama dengan otak
Getaran hati berdebar kencang pada tercinta
Gelombang rasa terus menaik hingga ujung kepala
Antara hidup segan tapi matipun tak mau

Menghalau rasa cinta tak mudah
Ubah cinta jadi benci karena tak berbalas
Halau semua kerinduan pada yang tercinta
Ada kabut suram menghalangi di setiap langkah
Rasa cinta ini teramat dalam
Rasa yang tak bisa berubah menjadi benci walau tak berbalas
Akankah padam mencintai dan merindukan yang tercinta?
Meragukan untuk padamnya rasa sayang dan cinta ini

Angkasa yang seolah tiba-tiba ambruk ke bumi
Derita tanpa tercinta walaupun telah lama mencintai
Iris semua sisi jiwa terasa mati tapi masih bernafas

Maut seolah telah tiba di ujung tanduk
Akhiri mencintai namun sungguh bukan perkara mudah
Naga api telah menyemburkan api kemarahannya
Gagahnya ksatria tak tampak karena telah kehilangan
Gagap lagi gagu karena cinta yang tak bersambut
Altar raja yang diduduki tak lagi menyenangkan hati
Lelah dan juga letih untuk mencintai tapi tak dicintai
Akhiri hidup ini dengan membawa rasa cinta pada yang tercinta

Kamu Benciku Dan Rinduku

Kau pikir aku tak pintar saat kau menutup celah
Baiklah dan maka aku menyerah
Tak lagi buatmu penuh bingung
Tak mau buatmu marah
Tak bicara karena jalan itu kau tutup

Lagi sayang banget sama kamu
Pakai cinta dan kasih
Kamu buat kangen

Sedang membencimu
Tapi tetap tak bisa benciimu
Kau yang sempat menorehkan rasa pada jiwa
Dan batas cinta juga benci teramat tipis
Mencintalah sekedarnya
Membencilah sekedarnya juga
Karena terkadang keduanya bisa berubah arah secepatnya

Terbukti sekarang kesejatian cinta
Tak mengapa bila memilih diam
Aku mengerti
Bila bahagia kau temukan dalam diam
Aku ikut bahagia