Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari: Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari : Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Senin, 25 Mei 2015

Jala Cinta

Lonceng di gedung tertinggi telah berdentang kencang
Bergeraklah duhai para pencari cinta
Tebarlah jala-jala untuk mendapatkan yang tercinta
Bila tak kuasa lemparlah jala dari atas gedung lonceng itu
Atau kalahkanlah suara lonceng itu dengan suara cinta

Inilah kecintaan yang hampir memudar
Tuhanpun tahu bahwa telah lama mendamba
Menguatkan hati saat segala cemooh juga hina meludah pada jiwa
Jala-jala cinta masih belum cukup menjaring segala bentuk cinta
Dan tak hendak mengangkat jala-jala ini

Meyakin saja bahwa Tuhan akan menyangkutkan satu cintanya
Tuhan jala-jala cintaku tak hendak kalahkan cintaku padaMu
Bila jala-jala ini kulemparkan ke bawah kaki
Maka jala-jala cintaku pada Tuhan kulemparkan ke atas Langit
Dalam sujud-sujud panjang selalu mencintai Tuhanku

Minggu, 24 Mei 2015

Pergolakan Batin

Tuhan yang Agung
Aku dalam limbung
Melangkah dan berjalan terhuyung

Sisi hati ingin dekat dengan Tuhan
Sisi hati yang lain seolah menahan
Di batin ini terjadi peperangan

BerTuhan meneguh tapi selalu ketakutan
Bawalah jiwa ini menuju kebaikan
Karena sungguh sangat ingin berTuhan

Jangan Ganggu

Mencari lagu dalam belahan rasa
Mencari semangat dalam dentuman musik
Mencari nasehat dalam lirik-lirik tak bernyawa

Sedang tak berselera
Hati dan kepala sedang tak nyaman
Dan pergilah kalian

Lelah Tak Menyerah

Lelah
Tak hendak menyerah
Hanya menghela nafas sejenak
Meluruskan punggung menghalau rasa pegal

Lelah
Tak juga mau pasrah
Terus memaksakan raga bekerja keras
Menangis mungkin ada dalam mencari sejentik penghidupan

Lelah
Tak mau berkata kalah
Hanya duduk sejenak meredakan rasa capai
Meluruskan kedua kaki dan terduduk di sudut sebuah gedung

Tak lagi bernafas
Sudah cukup perjalanan di muka bumi ini
Kematian menjemput saat mencari nafkah bagi keluarga di rumah
Berharap Tuhan mengganti rasa lelah ini dengan kebaikan

Tak lagi bernafas
Tak lagi ada kata lelah
Sudah menyerah dan kalah pada hidup
Tuhan telah memanggil jiwa saat raga sedang bekerja

Jadikan segala rasa lelah ini menjadi cahaya di hadapan Tuhan

Kotornya Cinta

Apalagi yang harus kulakukan agar bisa dekat denganmu
Kau tak jua mengerti semua tanda yang kuberikan padamu
Semua sinyal atas cintaku padamu telah menyala hijau
Kau masih diam juga atau kau memang tak miliki rasa padaku
Dan akhirnya aku lelah
Aku terdiam dalam malam
Menangis sambil coba terus mengais

Kau yang kucinta
Ingin bersamamu dalam tidur-tidurku
Selalu seruang bersamamu menghirup udara yang sama
Memeluk tubuhmu
Mengecupi setiap sudut titik ragamu
Peluklah aku dengan segera

Ingin segera berbalas darimu untuk cintaku
Menanti itu serasa mati
Tak normal menunggu selama bertahun-tahun hanya untukmu
Cinta lalu mencinta lalu ingin terus mencumbumu
Cinta dunia yang dibuai iblis telah mencacah nurani bersihku
Ini cintaku lalu ini nafsuku lalu ini hasratku padamu
Maka bercumbulah denganku

Hasrat Bersamamu

Baiklah kuakui sekali lagi aku cemburu
Tak cukupkah kau pajang kebersamaanmu dengannya
Aku melihatmu
Dan bohong saja bila kukatakan bila aku tak peduli
Aku masih memperhatikanmu walau kau acuhkanku
Dalam tembok aku mengintip kebersamaan kalian berdua

Mungkin saat ini doa terbaik bagi kalian berdua
Tak ingin merusak kebersamaan kalian
Genggam tangan kananmu bersamanya
Berikan aku tangan kirimu lalu genggam tangan kananku
Dalam resah aku berdoa berharap aku ada di hatimu
Tak mengapa percintaanku denganmu menjadi sebuah rahasia

Kau yang bersamanya dalam cinta
Aku bersamamu juga dalam cinta
Mencinta dalam segitiga
Aku terima
Karena ini sekedar nafsu belaka
Sungguh hanya ingin dipeluk juga dihasrati saja

Perempuan Bicara

Hari ini perempuan itu terlalu banyak bicara
Seperti hari-hari biasanya
Apapun yang tampak pada matanya menjadi bahan obrolan
Perempuan setengah baya yang tak mau diam
Mulutnya senantiasa berbicara
Lakunya seolah akting belaka bak pemenang piala film
Tetangis juga tetawa seakan menjadi hiasan semata
Rajukan sampai umpatan selalu hadir di hari ini

Hanya saat tidur saja dia diam
Menikamti segala yang dikeluarkan mulutnya selagi dia bernyawa
Mungkin apabila mati perempuan itu tak akan lagi bicara
Lalu hanya ada rindu tak terjawab saat mati tapi dia tak bicara
Tiang penyangga yang runtuh tertabrak gerobak
Ibu bapaknya yang diam tak melarang
Tiang yang hampir ambruk
Perempuan itu bicara tapi masihkah didengar?

Aku mendengar perempuan itu bicara
Karena ingin rindu itu terpuaskan saat ini juga