Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari: Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari : Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Rabu, 04 April 2018

Aku Bukan Sufi

Tak suka keramaian
Tak suka kebisingan
Tak suka kepopuleran
Cukup di sini dalam kesendirian
Merajut diri dalam taat keTuhanan
Tolonglah, aku tinggalkan
Tak usah terus berceloteh memaksakan
Lemah dalam menahan
Serasa tak berdaya dalam godaan
Melangkah menarik diri dari luaran
Bersembunyi dalam sebuah bingkai ketaqwaan
Tak mudah memang memaku dalam keimanan
Panah-panah api bujuk terlesatkan
Dibidik oleh para setan

Tidur Tanpa Bayangmu

Belum bisa pejamkan mata
Bayanganmu menggoda
Menghasut seluruh panca indera
Sungguh telah lelah mata
Pada malam yang terayun di cakrawala
Hanya ingin lekas tidur saja
Tapi gemeretak hati seolah panggilan dari sebuah nama
Ingin membencinya
Tapi benci tak kuasa
Karena pernah dan masih mencintainya
Malam ini kelelahan telah melanda
Ingin tidur dalam damai jiwa
Mencintaimu menjadi seperti hal tak biasa
Malam ini terlunta-lunta
Saat kau tak sekalipun beri hal yang berharga
Ingin segera pergi ke surga
Bila bersamamu tak bisa
Bila tidur dalam pelukanmu tak kuasa
Pergilah bayangan yang mengganggu jiwa

Dirimu Palsu

Akhirnya akan pergi satu-persatu
Seperti kisah di masa lalu
Kenangan hanya memahat di kalbu
Menangisi menjadi sesuatu
Semua cerita ini menjadi tabu
Tak usah lagi merayu
Ucapan perkataan penuh tipu
Setelah puas bersama yang lain mendekatiku
Kau tak berhak seperti itu
Jahat sekali dirimu
Ucapanmu
Potret dirimu
Hanya kebohongan sengajaimu
Mengertikah dirimu?
Atau nurani telah membatu?
Tak usah terus menyentuhiku
Padahal ingin melepaskannya denganmu
Hal yang pertamaku
Tapi terlalu penuh palsu
Tampilan dari dirimu
Bergurau bercanda seperti tak mau

Jawabannya Menyakitiku

Bila menangis
Maka menangisku
Bila bersedih
Maka bersedihku
Apakah bahagia hanya milik penguasa licik?
Dalam sendiri meremang
Mencoba membaca
Menerawang tak terawang
Perih saat ada yang bertanya
Sudah kurajut hati
Kupilin agar bisa menjawabnya
Tapi pertanyaan itu membuat nyeri
Ada airmata tertahan
Maaf,
Bukan tak mau menjawabnya
Tapi jawabannya terlalu menyakitkanku
Karena hanya bahasa kejujuran guruku
Meraba dalam kesah

Dingin Tengah Malam

Hujan
Belum tidurku
Sudah lewat tengah malam
Masih berharap
Ada sapaannya
Namun entah
Apakah dia masih terjaga?
Atau sudah terlelap?
Segudang rindu
Semilyar rasa
Hanya mengharapkan sejentik
Tegurannya dalam kata
Perhatiannya yang tulus
Tapi tetap tak ada ketukan
Dirinya yang raib entah kemana
Sudahlah
Berteman dengan hujan di tengah malam
Berbalut dingin tanpa pelukan kalimatnya

Sabtu, 31 Maret 2018

Gambarmu Bukan Gambarnya

Kau tak bisa seperti itu
Terus mempermainkanku
Kau pikir kau berhak melakukan itu
Terus dustaiku
Ada rasa ketegangan saat bicara denganmu
Dan kau permainkan rasaku
Aku mencintaimu
Tapi kau tak berhak berbuat sesuka hatimu
Kau kirimkan gambar yang tak inginku
Inginku hanya darimu
Sudahlah bila telah memilihmu
Bahagialah dengan pasanganmu
Kebohongan-kebohonganmu
Benci mendengarku
Kehilanganmu
Tapi mencintaimu

Anomali Cinta

Mereka bilang cinta
Semudah itu terungkapkan kata
Mempermainkan sebuah rasa
Perasaan tersuci seharusnya dari jiwa
Hanya sekedar menuliskan kata belaka
Kerinduan yang pura-pura
Kasih sayang yang penuh dusta
Setelah terpuaskan nafsu lalu menghilang begitu saja
Tiada jejaknya
Tiada baunya
Seolah hempasan bebatuan pegunungan longsor di jiwa


Rindu juga kasih sayang sekedar canda
Tak sekalipun meresap pada nurani berjiwa
Bila terus beranomali cinta
Mengapa harus datang dan berkata?
Diri ini manusia
Dan telah jujur berucap cinta
Tapi mereka hanyalah penghitam permata
Begitu tega

Penuh hal yang gila
Terus mulut berbusa penuh anomali cinta