Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari: Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari : Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Senin, 03 Agustus 2015

Cintaimu Menepikan Sekejap Pada Tuhan

Cukup tentang merindu pada dirimu
Cukup menatap terus-menerus potretmu yang membuat semakin rindu
Tak selamanya rasa cinta juga rasa rindu terus bersemayam dalam dada manusia
Saat ini rasa cinta yang berkobar
Mungkin kelak rasa cinta akan memudar

Sudahlah, duhai jiwa yang terus meracau
Jiwa yang tak sepantasnya berpaku dan bercermin pada bayangan kasihmu
Dirimu yang tak pernah sekalipun miliki rasa rindu pada diriku
Untuk apa terus menantimu
Jiwa ini sebenarnya sangat kesepian

Dalam perantauan
Dalam kegalauan
Mungkin tak layak terus bergantung pada asa cintamu
Seakan belas kasih juga cinta Tuhan terabaikan
Dirimu yang telah mengkasatkan diriku pada pelukan Tuhan

Sungguh dalam belai Tuhan maka jiwa mendamai
Dan sangat menginginkan berTuhan saja dengan teguh

Tak Kuasa Menjauhimu

Tak hendak bermain dengan hati
Tak hendak memasuki kehidupanmu

Hanya sekedar kerinduan semata
Hanya sekedar kecintaan semata

Mungkin nafsuku ini terus memacu menginginkan dirimu
Maka aku pergi karena tak mau terus ganggu dirimu dan duniamu

Cukup mengetahui bahwa kau bahagia maka aku baik-baik saja
Dan tak usah mencari aku

Mungkin kelak aku telah melupakanmu
Karena rindu dan cinta tak selamanya menaut pada hatiku

Tapi yang perlu kau ketahui saat ini sedang memikirkanmu

Minggu, 02 Agustus 2015

Potretmu

Semua potretmu tak berguna kini
Potretmu di pangkuanku hanya membuat kesedihan belaka
Lalu untuk apa masih kusimpan potretmu ini?
Menyimpan sejuta kenangan bersamamu hanya membuat luka
Ada nyeri dan perih terasa semakin menusuk dada

Potretmu kusimpan sedalam-dalamnya
Kusimpan dalam tanah dengan penguburan sebaik-baiknya
Mungkin rasa cinta juga sayang senantiasa ada padamu
Namun potretmu telah habis dan tak tersimpan lagi di sini
Untukmu dan aku masih merindukanmu

Sabtu, 01 Agustus 2015

Kuatkan Iman Ini

Tuhanku,
Dalam keremangan malam mencoba menggapai segala kasih
Segala miskinnya jiwa dan kosongnya rasa
Semua sombong serta arogan yang gerogoti setiap sendi badan
Petuah-petuah agama ini selalu digaungkan sedari kecil

Tuhanku,
Ampuni semua laku-laku sesatku
Selalu saja kembali berdosa lalu menyesalinya
Aku hanya manusia biasa yang imanku masih labil
Kuatkan selalu lalu jagalah aku dalam balutan penjagaan-Mu

Tuhanku,
Dalam kerapuhan hidup
Saat diri terombang-ambing nafsu yang terus meronta
Seharusnya selalu mengingat Tuhan dalam setiap hidup juga setiap langkah
Jadikan tawa dan sedihku hanya senantiasa teguhi Tuhan

Tuhanku,
Pada malam ini sangat penuh memohon pada-Mu
Jagalah dengan keras iman ini
Tak mau terjerembab dalam sesatnya juga sasarnya langkah-langkah setan
Jadikan aku menjadi pemuja Sang Maha Esa yang teguh

Makanlah

Tak mau makan karena selalu teringat padamu
Seolah hampa tanpa bercinta denganmu
Tapi hidup harus terus berjalan
Ada atau tanpa dirimu

Makanlah tubuhku
Demi hidup dan kehidupan ini
Bila dirimu tak juga peka
Maka lepaskanlah secara perlahan

Makanlah segera!

Manusia-Manusia Pemberi Batas

Hampir tak pernah bicara
Bertegur sapapun jarang
Ada batasan yang telah dibuat oleh penguasa dirimu
Dan telah menghormatinya
Belajar tentang karakter manusia

Baik-baik saja kau di sana
Walau tak bicara tapi selalu ada sayang padamu
Hanya karena manusia-manusia yang bertindak seolah tahu semuanya
Kasih sayang kita menjadi remang dan tak kentara
Tak tahu apalagi yang akan kelak diperbincangkan

Bila manusia-manusia yang merasa paling benar telah berkata
Kisah sayang kita tak nampak di permukaan
Aku menjagamu dengan cara berbeda
Dalam doa dan rindu terpendam
Tak hendak menjadi pemberontak untuk dirimu

Kita lihat saja kelakuan manusia-manusia yang anggap dirinya tak tersentuh nasehat

Manusia-manusia yang telah memberi batas pada kasih sayang Tuhan

Ingat Saja Rinduku

Tak usah kau tanyakan tentang cintaku padamu
Tak usah kau tanyakan tentang rinduku padamu
Rasa sayangku tak pernah padam bahkan semakin mendalam
Bila tak malu pada dunia maka ku telah menangis terlalu merindukanmu

Sungguh tiada dirimu hari-hariku seolah tak melihat
Berjalan tanpa arah
Otak tak dapat berpikir
Hanya ingin dirimu berada tepat di sampingku

Namun dirimu tak kuasa kupegang
Dirimu yang telah memilih bersama siapa hatimu menautkan kasih
Aku tersenyum saja walau pahit kenyataannya
Tak hendak menjadi pemisah antara dirimu dengan cintamu

Biarlah menjadi pemuja rindumu

Dan ketahuilah dimanapun kau berada selalu ada diriku yang merindukanmu