Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari: Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari : Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Minggu, 15 Januari 2017

Formula Membencimu

Firasat yang selalu diabaikan
Indah percintaan selalu diagungkan
Rempah juga bumbu sayang telah tertuangkan
Menyakini bahwa perhasratan ini selamanya
Andaikan dirimu mengerti akan semua sikapku
Nasehat kebajikan selalu didengarkan

Menghapus semua noda dengan doa
Aku yang akan selalu menjadi pengagummu
Ukir semua rasa yang terkadang kau menjenuh
Liburi jiwa yang selalu memujamu
Apalagi yang harus kuyakini padamu atas cintaku
Nilaiku padamu terpupus atas ulahmu
Aku tak ada waktu untuk firasati membencimu

Kau Belum Jua Menjawab Cinta

Dulu dengan dia
Sekarang bersama dirinya
Kapan bersamaku?

Diam dan tak bicara
Mengapa tak jua bicara cinta?
Atau sudah habiskah rasa?

Aku mendambamu setiap saat
Berharap kau sayangiku tanpa syarat
Dalam sepinya ruang genggam jemariku erat


Lama Tak Berdua Bersama

Telah beberapa hari tak bersama
Dia yang tak tersenyum dan tak memandang malam ini
Seolah perhasratan yang terjalin tak berarti bagi dia
Kenapa dia seperti itu?
Dia melangkah kaki berlawanan arah denganku

Maaf, sekali lagi jika aku masih menunggumu
Maaf, bila buatmu kecewa dan marah
Datanglah jikalau dia sedang tak bersama teman saat malam
Aku yang ingin berdua bersama 

seperti yang dia lakukan bersama teman-temannya

Setiap pagi hari dan malam hari bersama dan berdua indah

Virus Rinduimu

Vodka membuat jatuh tubuh
Antara sadar dan tak sadar berharap padamu
Lesung pipitmu yang selalu menjadi pesona
Energi jiwa mencitaimu seperti pemabuk vodka
Neraka dunia melihatmu tapi tak kuasa memelukmu
Tak hendak memaksamu untuk mencintaiku

Rasaku biarlah menjadi relung dalam rahasiaku
Aku terkejut ternyata obrolanmu masih penuh tipu daya
Mengajak jujur tapi dirimu seperti tak bercermin
Ada kecewaku tapi tak pudarkan rasa suka
Dogma rinduku tetap ada walau kau membalas dengan marah dan sinis
Ambilkan saja rasa sayangmu hingga sembuhi virusku
Nurani bicara tersuci lalu hilangkanlah kebohongan




Ingin Berkuda Lagi

Berkuda memacu dengan derap tercepat
Meragu
Tak kunjung memeluk lagi
Tak lagi bercengkrama beratap langit
Mungkin kini sedang berbahagia
Bergelimang pesona dan harta
Hingga sebuah rasa dicampakkan

Masih berharap
Mungkin ini setengah gila namanya
Memacu kuda hingga tiba di garis akhir
Lalu terpuaskan rasa

Dustamu Dan Cintaku

Marah dan terus marah
Dan itu membuatku takut padamu
Kau bilang bicara kejujuran
Maka jangan nodai dengan sedikit kebohongan
Aku yang gemetar melihat potretmu
Bila bertemu maka lunglailah seluruh tubuhku

Ini cintaku
Ini sayangku
Ini jujurku
Mengapa masih kau lukis dusta dalam lakumu

Bagaimana Kabarmu?

Sehatkah dirimu?
Khawatir karena tidak melihatmu
Semoga selalu dalam keadaan sehat

Senang apabila melihatmu
Walau dirimu tampak acuh padaku
Dirimu yang teramat lengket dengan dia
Lalu bersama denganku kapan?

Ingin hari esok kau ajak aku
Kemana saja terserah kamu
Hanya kita berdua

Lagi dimana?
Sedang berbuat apa?
Dan yang terpenting sedang bersama siapa?

Kenapa dia yang bersamamu meminta es krim kepadaku?
Bukannya dia sekarang "teman redekat tersayang" dirimu?
Aku yang tampak tak bermakna di matamu
Susahnya ingin bertemu
Kau lebih nyaman bersama dia
Ucapku padamu "bahagia"

Kau sekarang tak menjawab
Selalu diam tanpa sebab
Jangan sampai kedua mataku sembab
Dalam penantian selalu inginkanmu dalam kering dan lembab