Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari: Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari : Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Minggu, 25 Januari 2015

Mata Sang Pendosa

Dunia yang tampak sama di mata
Mata sang pendosa
Kemanapun mata memandang tak ada yang beda
Penuh kenikmatan semu juga segala tipu daya
Mungkin jiwa ini terlalu kotor hingga panggilan Tuhan di anggap sandiwara

Segala yang tampak selalu membuat bergemuruh sahwat
Mata sang pendosa penuh pekat
Laku yang dijalani selalu mengarah sesat
Sungguh ini laknat
Dunia semuanya hanya kebahagiaan sesaat

Bicara sendiri
Mata sang pendosa tertunduk malu hati
Ada keinginan lurus berilahi
Jalan terjal seakan terus menghalangi
Taqwa ini

Alam raya mendung menggelayut di angkasa
Mata sang pendosa
Begitu ketakutan melihat dunia
Angkuh juga segala macam penyakit hati ada di jiwa
Merasa diri yang paling berTuhan dan ini terlalu riya

Perjalanan taqwa ini memang tak akan mudah
Mata sang pendosa terlalu lelah
Sorotan ke seluruh penjuru bumi yang terlihat hanya tanpa berkah
Dedosa yang baru dan terkadang berulang membuat jengah
Jiwa yang haus akan Tuhan yang Maha Pemurah
 
 

Aku Bukan Mereka

Saat mereka bilang "anjing"
Maka aku berubah menjadi babi

Saat mereka bilang "monyet"
Maka aku berubah menjadi "keledai"

Saat mereka bilang "pergilah ke neraka"
Maka aku pergi ke dalam surga

Aku beda dengan mereka
Ada jelas pertanda batas keimanan

Aku bukan mereka
Aku yang berusaha menguatkan taqwa

Terus Meyakini Dunia Sementara

Berulang kali nafsu salah menjadi primadona hidup
Seperti subuh tadi yang berharap bisa memeluknya
Tapi subuh tadi bersentuhanpun dengannya terasa susah bukan kepayang

Aku yang selalu melihat gerak-gerik kehidupanmu
Aku yang selalu menanti setiap kabar baik maupun buruk darimu
Aku yang terbelit dengan nafsu dunia padamu

Parasmu yang menawan
Sikap juga badanmu yang menggoda
Membuat rasa hatiku seolah terkunci

Namun untuk kesekian kalinya aku menguatkan diri
Bahwa segala indahnya dunia tak selamanya
Semua yang indah namun tak berTuhan adalah salah

Badan yang sempurna kala muda
Bila tua melanda tak ada lagi paras yang menarik juga tenaga yang kuat
Bila mati telah tiba siapapun tak bisa menolaknya

Terus meyakini bahwa sesungguhnya dunia ini sementara

Sabtu, 24 Januari 2015

Tak Bisa Bergerak

Saat melangkah ke depan ayunan kaki terhenti
Ada banyak ranjau yang bertebaran
Langkahpun terhenti

Saat hendak memutar balik ke belakang badan tak dapat lagi kembali
Jalan pulang tertutupi lumpur hisap
Akhirnya hanya bisa berdiri mematung menanti keajaiban Tuhan

Kiri juga kanan terhampar jurang menganga
Diri berdiri bila lelah berjongkok dan hanya itu yang dapat dilakukan
Aku ingin pulang

Tolong, hentikan
Jangan terus menebar duri
Wahai nurani, bicaralah pada jiwa-jiwa yang menghitam

Semoga BerTuhan Teguh

Tuhanku, hampir menangis tersedu saat berurai nestapa
Langkah yang tersusun walau gontai menuju pusara

Pusara itu hati berTuhan
Karena sungguh sangat merindu berTuhan

Telah lama berlanglang buana dalam dunia salah
Dan kini lelah

Tersadarkan bahwa ada hidup abadi setelah mati
Semua tindakan akan berbalas nanti

Maka tangisan ini tertahan di dada
Penyesalan pada dedosa

Tuhanku, aku ketakutan
Apabila langkahku di dunia hanya ikuti nafsu setan

Jangan biarkan aku menangis di hari pembalasan kelak
Berikanlah kekuatan dalam tapaki dunia dengan baiknya akhlak

Penguasa Lalim Tak BerTuhan

Dalam rasa takut berserah pada Tuhan
Saat melihat pereguk dan pencari kuasa berebut dengan cara paling culas
Membenarkan yang salah lalu menyalahkan yang benar

Keadilan seolah di biarkan menjadi menerawang
Kebenaran sengaja di sulap menjadi barang permainan
Penguasa lalu berenang dalam salahnya langkah

Tuhan, dalam lemah diri ini lindungi dari para penyesat langkah
Berkata atas nama Tuhan tapi tak pernah berjalan di atas jalan Tuhan
Demi kekuasaan sementara di dunia lalu berbuat tak berTuhan

Bila kami tak percaya pada penguasa yang lalim
Bila kami muak pada tingkahnya yang memeluki kesesatan
Bicarapun seolah aroma setan yang bicara

Kami tak pernah takut pada penguasa tak berTuhan
Kalah atau menang perjuangan ini kami serahkan pada Sang Esa
Kebenaran nurani berTuhan menjadi dasar perjuangan ini

Dan kami benci para penguasa yang lemah lagi lalim

Mimpi Sang Penjaga Kesesatanku

Semalam bermimpi tentang kembalinya sang penjaga kesesatan ke rumah
Sang penjaga kesesatan yang menjagaku dari laku-laku sesat
Sang penjaga kesesatan yang hanya menjagaku tapi tidak dengan dirinya sendiri
Sang penjaga kesesatan yang tak bisa menjaga dirinya sendiri
Sang penjaga kesesatan yang bermain dengan sesatnya laku sesat

Penghuni rumah seluruhnya seolah membuta mata hati juga nurani
Semua serempak bagai paduan suara mengharapkan kembalinya
Dan aku yang akan terbelenggu dalam ruang ini
Padahal telah lama tak bermain aku dalam hitamnya langkah
Lalu mengapa sang penjaga kesesatan hadir di mimpiku dan kembali ?

Aku hanya ingin menuntaskan satu hasrat ini saja
Atau haruskah aku bermain hasrat ini dengan membunuh sang penjaga kesesatan dulu ?
Hasrat-hasrat yang telah lama tak kunjung datang
Lalu mengapa sang penjaga harus datang ?
Apakah suatu tanda bahwa hasrat itu akan mengunjungiku kembali ?

Mimpi semalam yang membuat tanya