Entahlah, rumah mana yang akan kutuju?
Atau aku yang terlalu keras kepala pada kehidupan?
Melangkah pelan
Karena jalan hidup manusia berbeda
Nikmati saja tanpa perlu menjadi beban
Jika rumah yang kutuju hanya sekedar singgah
Maka kuterima
Tak mengapa meski dulu berharap teramat banyak pada rumah itu
Bukan salah rumah itu
Tetapi ada segelintir racun yang memaksakan maunya
Begitu tak tahu malu
Meski usia semakin menua
Ingin membawa 2 permataku dari rumah tanpa respek itu
Karena kucinta tak kusesali
Karena kusayang tak kutangisi
Tetapi dusta-dusta juga berbagai alasan buatku mengerti
Dia yang sedang merasa sendiri juga sepi
Saat mencintaku padanya penuh upaya
Dia yang sengaja terus membalikkan fakta
Saat merinduku selalu berusaha hadir juga ada
Dia yang menghujat birahiku bak monyet katanya
Saat semilyar nyeri atas perilakunya mencoba bertahan
Tetapi jika terus berulang maka menjadi tak tertahan
Katamu "rasamu merupakan kerahasiaan"
Tersadar saat dirimu berujar "miliki kawan!"
Melepaskan
Carilah penghibur kesepianmu, silahkan!
Tak menyesali segala yang kuberi padamu
Meski dirimu tak pernah memberi arti
Tak menangisi semua langkah menuju dirimu
Meski dirimu tak menghargai perjalananku
Menghilangmu kini mungkin mencari penghibur baru
Kukira dirimu rumah
Tapi ternyata hanya singgah sementara
Dirimu sama saja ternyata
Dirimu bukan rumah hanya tempat persinggungan tak menguat rasa
Tak mau lagi tersakiti
Rasamu hanya sandiwara
Saat bersama kau bak mayat hidup yang sedang bercinta
Aku rindu tapi tak mau terus dibohongi
Kusangka dirimu rumah ternyata dirimu hanya manusia kesepian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar