Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari: Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari : Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Kamis, 09 Desember 2010

Penyesalan Dosa

Ampuni aku Tuhan yang sangat merasa bersalah
Saat dosa tertunaikan diri berkalung penyesalan
Benci jiwa yang kotor berlaku sesat
Lemah tak bergerak saat hembus goda setan membuai

Aku manusia biasa yang menyesal saat dosa terlaksana
Jagalah aku Tuhan, agar tak terulang
Ampunilah

Tak Ada Simbol

Tak bersimbol
Ku tak bersimbol

Tak bersimbol
Aku tak punya simbol

Cinta Gila

Tentang kita yang dimabuk cinta
Benarkan langkah-langkah yang salah
Acuhkan semua pendapat orang
Merasa kita yang paling dewasa
Menganggap Tuhanpun pasti suka

Namun nyatanya aturan Tuhan kita langgar
Namun nyatanya norma kaidah kita tepikan

Cinta kita membara
Kadang tak berlogika
Buat segalanya buta
Hingga segalanya menggila

Anjing Terkotor

Biarkan rumah terkotor
Bila sebagian penghuninya juga kotor
Untuk apa dibersihkan
Bila penghuni rumah hatinya tak sudi diluruskan

Ketuaan Yang Tersia

Sakit sekali, Tuhan
Penghinaan dari mereka ingin kuludahi wajah-wajah
Seperti tak tahu malu saja
Usia tua tak semakin bijak lagi dewasa
Pergi dari mereka mungkin lebih baik

Sejuta Pelik

Lihatlah betapa rumah-rumah tampak megah
Rasakan para penghuninya yang kuyu lelah

Lihatlah kendaraan-kendaraan berlalu lalang sangat mewah
Tengoklah kedalaman hati penumpangnya teramat gerah

Kegeraman akan nafsu dunia
Harta benda yang fana nan sementara
Materi berlimpah semestinya religipun teramat kaya

Dimanakah para penghuni surga?

Saat Orang Tua

Saat ibu memaki lalu berkata "anjing" pada sang adik kedua
Sang kakak pertama tersenyum kepada sang adik kedua
Ibu melirik saat senyum kakak pertama tersungging serta merta berkata "ada apa melihat kesini?"

Bapak menjaga harta benda adik kedua yang berkubang laknat
Kami bukan pendukung kelaknatan
Posisi yang jelas
Ketegasan ibu bapak dalam emosi kegamangan berTuhan
Berpikir sejenaklah

Ajakan kebaikan telah terucap

Ibu bapak janganlah seperti Azar ayah Ibrahim
Ibu bapak tak usah mencontoh anak dan istri dari Nuh

Ibu bapak jadilah seperti Khadijah istri Muhammad
Ibu bapak jadilah Lukmanul Hakim selalu berikan petuah keTuhanan kepada anaknya

Tuhan, bagaimana ini?
Kami anak-anak yang tidak boleh berkata menyakitkan pada orang tua

Tuhanku, bagaimana ini?
Orang tua yang berkata menyakitkan juga belum membuka berTuhan

Orang tua berTuhan tapi ibarat topeng belaka
Perkataan kebenaran tak didengarkan
Sahabat berkata "serahkan segala urusan pada Tuhan dengan berdoa
tunjukkan dengan perbuatan kebaikan"

Hati manusia milik Tuhan
Tuhan Maha Melihat
Kebutaan diidap manusia
Maka berbaik sangkalah lalu belajarlah sampai kematian tiba

Sungguh orang tua bila sikap terus demikian
Tak ada kuasa menolong orang tua di hadapan Sang Pencipta kelak

Selasa, 30 November 2010

Kesendirian

Saat sepi merayap menelanjangi diri
Tafakur pada Tuhan menjadi satu solusi
Tiada kawan sejati kala duka melekati
Pembuktian apa lagi pada mereka yang menghapus keberadaan diri

Pelarian-pelarian kecil demi satu pembuktian
Kelelahan
Penyadaran saat Tuhan bersanding badan
Inilah kehidupan

Manusia-manusia dengan mudahnya berubah haluan
Bersama Tuhan seharusnya mampu ajari diri senantiasa teguh beriman

Hujan Sedih

Ada luka menganga tergores perih yang menghitam
Kidung malam mencekam menadakan melodi kemalangan
Berlari tapi berputar hingga kembali ke pelukan sang hitam

Dingin yang menggigilkan
Sedih yang bercampur air hujan

Larungkan kesedihan di sungai Gangga
Bakarlah lara di puncak gunung Bromo
Mistis-mistis yang menjadi hantu kehidupan
Tuhanpun dihanyutkan
Kesedihan berawal saat tepikan Tuhan
Petunjuk telah ditemukan masihkah akan diingkari?

Inginkannya

Bila dia terlarang mengapa begitu menggoda dan mempesona?
Sahwat yang kencang
Bisik setan berhembus
Dunia oh dunia

Petunggu

Petapa menyepi
Gua pekat lagi lembab
Bertahun-tahun
Binatang-binatang telah berteman
Agak goyah terhuyung
Akhirnya ambruk tanpa nyawa berkalung

Penungguan yang sia-sia
Pemujaan salah kaprah
Sembahlah satu Sang Semesta
Penungguan itu pasti berujung pangkal

Rabu, 17 November 2010

Hari Rayaku

Terbalut dalam kesendirian
Sepi sekali dalam jiwa
Terkurung sesuatu yang tak pantas diutarakan

Keramaian perayaan tak menyenangkan hati
Sembab gurat tertahan di pelupuk
Dosa-dosa yang dimiliki seakan tak pernah habis

Pekikan nama Tuhan yang berkumandang menyedihkan sanubari
Ada sakit rasa itu di kedalaman
Bahagianya hari raya ingin terkecap

Hari raya kali ini semoga terakhir aku bersedih

Selasa, 09 November 2010

Di Persimpangan

Bimbang saat iman mulai terkikis pelan
Nafsu-nafsu iblis menari di pelupuk menunggu tertunaikan
Agama di persimpangan

Dunia sementara mau tergauli
Melepas Tuhan kegamangan
Mengapa Tuhan memberi celah iblis untuk menggoda?

Masih manusia lemah yang berjuang tinggikan keimanan
Di persimpangan agak goyah
Kegembiraan dunia nan fana
Kegembiraan kelak nan kekal

Telah nyata kejelasannya tapi iblis menabur kabut-kabut sehingga kabur
Berikan terangMu agar tak sesat di persimpangan ini

Mimpi

Cobalah kau taklukan malam ini dengan sejumput asa
Peluh-peluh yang mengucur deras basahi baju-baju
Adakah kegairahan terkecap?
Atau mimpi yang tak kunjung jadi nyata belaka

Tolong

Dikelilingi orang-orang angkuh
Terkontaminasi
Jauhkanlah
Berikan kebaikanMu

Alam Merah

Jangan hukum melalui kemarahan alam
Gunung meletus
Air bah mengamuk
Air laut tinggi menerjang
Semua bencana dunia menyakitkan
Segalanya hancurkan tatanan kehidupan
Nyawa-nyawa terenggut
Bangunan-bangunan hancur rata dengan bumi
Sudahi kemarahan alam ini

Pepohonan di bukit yang jarang
Bakau-bakau di pesisir tak tertanam
Tak dapat redakan lavanya
Saat bencana menerjang adakah niat untuk berdamai dengan alam?
Berbuatlah perbaiki lingkungan alam yang koyak
Selaraslah dengan alam
Biar gempa-gempa dunia dapat menjadi teman yang tak merusakkan kehidupan

Jangan hukum di dunia
Jauhkan hukuman di hari setelah mati

Kesusahan

Dalam berTuhan sering kuterjatuh
Turuti nafsu lalu menyesalinya
Adakah keteguhan iman kudapati?

Kepayahan jalani titah Tuhan
Ampuni dedosaku

Kamis, 04 November 2010

Orang Tua Setengah Dewa

Apakah ayah ibu pernah ajari cara menggosok gigi?
Apakah ayah ibu pernah ajari cara bersembahyang?

Ayah ibu mendidikku untuk mencari semuanya sendiri dengan materinya

Saat tertidurku ayah menghalau nyamuk-nyamuk
Saat sakitku ibu merawat penuh kasih

Terkadang mengharap lebih menganggap ayah ibu titisan dewa
Ayah ibupun manusia
Mahluk berakal tempat khilaf dan salah

Akupun manusia tak luput dari dosa
Ayah ibu bersama nama kalian,
Teguhlah untuk berTuhan

Tuhan Dalam SeruanMu

Maaf, Tuhan
Ampun, Tuhan
Atas sembah yang tak terhatur tepat waktu
Bersujud padaMu tapi berdosa pula
Menyesalinya tapi seperti keledai
Hati tak inginkan itu
Bukan sufi atau nabi tapi selalu untuk berTuhan

SeruanMu menggigilkan sanubari mengecilkan hati
Tiada berdaya
Jagalah Keimanan
Tuhan terseduku dalam seruanMu

Hati Manusia

Hati milik Tuhan
Sekejap mata bisa membalik hati
Berteguh pada keTuhanan lalu berpaling mendukung kesetanan
Tipu daya setan begitu indah membius menggoda

Tersalah nampak lemah lalu kau membela paling keras
Kemana kerasnya hatimu saat mengharamkan langkah-langkahnya yang tidak berkeTuhanan

Hati yang segumpal daging mudah tergores bisikan hasutan rayu iblis
Tangisan pura penuh lemah begitu menipu daya

Berserahlah pada Tuhan selalu kuatkan hati nan lurus
Senantiasa teguh keimanan

Sabtu, 30 Oktober 2010

Matinya Keadilan

Tak bisa bergerak
Terkurung buntalan materi
Lidah-lidah yang bisa di bengkokan
Palu-palu keadilan yang dapat dipatahkan

Hukum milik yang pintar membalikkan kesalahan jadi kebenaran
Kebenaran tersimpan di peti terkunci rapat pada sudut ruang yang gelap
Tertawa bagi maniak kebengisan di dunia
Manusia bisa kau perdayai di dunia
Masih ada hari ahir
Bisakah kau berkelit di sana kelak?
Kuragukan itu

Makanlah kebencian Tuhan
Celakalah di dunia dan aherat bagi mereka yang mematikan api keadilan

Rindu Kesejatian

Tiada teman sepertimu
Ketulusan yang kau beri mampu tempati beku di hati
Rindu akan untaian itu
Walau kucoba menghapus tapi susah bukan kepalang

Kau yang telah berpusara mengiang di kepala
Perjalanan di dunia bagimu telah usai
Pelajaran darimu bagiku memahamiku

Ada mereka yang menguliti jiwa
Ada mereka yang selalu ada untukmu
Aku yang dahulu coba berkilah padamu
Tapi kilahanku benar adanya

Tempatku berpijak sekarang saat itu butuhkan pendorong semangat
Tapi setelahnya torehanku terpupuskan begitu saja
Kau yang berikan gambaran itu
Kumemahami arti kesejatian

Rindu akanmu
Rindu arti sebuah kesejatian hidup

Ternyata Kenyataan

Ternyata pertemanan kala susah dan dekat semata
Materi tereguk olehmu putuskan kisah-kisah meraih mimpi itu
Sakitkah diri?
Ternyata tidak
Pengalaman hidup telah menguatkan memberi pembelajaran

Diri bukan pendosa tapi kau memilih dalam berteman
Kewajaran saat dunia memenuhi kedua tanganmu
Kau hapus cerita-cerita
Ternyata diri tak sepertimu
Diri memegang jalinan teguh

Walau susah selalu mencoba
Namamu ada dalam daftar panjang teman yang menghapus kisah
Ternyata inilah kenyataan

Cempedak

Kegelisahan mengais relung jiwa
Terlihat benderang pada permukaan tapi keruh di kedalaman

Ibu Berbeda Kasih

Ibu berlain kasih seolah satu anak naikkan status sisihkan anak yang lain
Deminya salah-salah tak kentara
Amarahnya menciutkan nyali
Coba mengerti juga paham akan tabiat ibu

Ini bom waktu

Jangan panggil kala telah hengkang dari sisi ibu
Diri memaklumi tapi masih manusia yang miliki hati
Ibu manusia diripun manusia
Kelemahan manusia

Bahagialah dengan perbedaan kasih ibu

Belai Menipu

Terkurung tak ada celah melarikan diri
Terpesona tertipu akan indahnya pandangan dunia
Kemana langkah harus dituju?
Rantai-rantai mengekang kebebasan
Adakah Tuhan masih menerima?

Tidak Pernah

Takutkah pada dunia?
Kujawab tidak akan pernah takut terhadap apapun
Bersama Tuhan aku nyaman

Lebur

Nanah bercampur darah
Penuh penghianatan dan pertikaian
Saling menikam
Ilmu-ilmu agama telah profesor
Keprofesoran yang terbuang
Dosa-dosa terus dilakukan

Penguasaan dunia yang dibanggakan
Leburkan kaidah tentang lurus berTuhan

Semu

Tawa tapi sedih di dalam
Ceria tapi tangis di jiwa
Berseri tapi kelabu di sanubari
Nyeri bila terus berdusta tentang bahagia

KeTuhanan melalui jalan yang terjal
Cinta Tuhan sangat membutuhkan
Cintakah Tuhan pada diri?
Diri benar-benar mencintai Tuhan

Tabir Bayang-Bayang

Membuka lamunan dengan bergegas
Memilah hati untuk di telaah
Tak kunjung didapatkan
Serasa menguap saat dipegang
Fatamorgana bayang-bayang
Kesenangan yang semu belaka

Bidadariku

Bawalah aku ke surga dalam kepak-kepak sayap bidadariku di malam ini
Andaipun bidadariku terlupa di malam ini mungkin esok atau lusa dia akan membawaku
Perhentian terahirku surga
Beserta restu Tuhan ingin menjamah surga selamanya
Tak kuat menahan suluh api neraka

Bidadariku antarkan aku ke surga segera

Tingkah Setan

Membenarkan segala cara untuk kebahagiaan pribadi
Dobrak larangan agama agar nafsu-nafsu bejat tercukupi
Norma-norma hanya cukup sebagai pembelajaran di sekolah belaka
Dalam dunia nyata laku-laku langgar norma ditunaikan

Haruskah semuanya?
Menipu diri juga lingkungan
Tuhan tak bisa dibohongi

Tak Berdaya Sungguh

Kehilangan teman sangat meruntuhkan kedua tungkai kaki
Pengap dada lagi sesak
Mampukah berkunjung ke pusara
Menyebut namamu saja hati tak karuan
Sembab tertahan di kedua mata

Memang tidak sejati
Tapi saling mengerti
Dulu kukatakan "pulanglah kita rajut dari sana"
Teguhnya pendirian telah canangkan tekad
Lenyap tanpa di dekatmu

Hari inipun masih tak berdaya sungguh
Waktumu telah habis
Tapi belum tiba saatku
Petuahmu ada di benak selalu

Rabu, 29 September 2010

Bertalu Kesenyapan

Sepi mengukung badan
Ramai lalu lalang tapi tanpa suara di jiwa
Sendirian menangisi kecewa

Pelarian yang tak tahu kemana harus bersembunyi

Sepi walau di sekeliling tetabuhan bertalu-talu
Tak terasa menyenangkan

Sebuah Mimpi

Mimpi-mimpi yang tak beraturan
Hayalan yang memuakkan
Mimpi bercampur nanah

Mimpi yang menyeret ke lembah kenistaan

Muak Berperang

Perang telah lenyapkan sisi manusiawi
Bocah-bocah perempuan melahirkan anak-anak suci dari sperma-sperma yang dipaksakan tentara-tentara penindas
Tentara pembebasan demokrasi pendusta

Kembalilah ke negara asal kalian lalu belalakan mata-mata
Demokrasi negara kalian tak bermoral

Berkaca di kubangan air hujan
Muak penindasan

Benci perang

Rindu kedamaian

Selasa, 28 September 2010

Tak Bisa Lakukan Itu

Apalagi cerita yang akan tersuguhkan
Lelah mengikuti cerita yang mendayu-dayu
Sepi membayang di pelupuk berubah menjadi kesepian

Kelebatan-kelebatan menyilaukan bola mata
Tergugu lalu terpesona
Mimpi yang membakar jiwa lemah
Setan menyorongkan badan ini untuk turuti nafsu laknat

Logikapun dibuat seolah membenarkan langkah
Kalut menggelayut
Bimbang menjadi gamang

Bedug bertalu
lonceng berdentang
Asap dupa mengepul
Sajen tersajikan
Memilih sangat kepayahan

Diri tak sebaik yang terpikir otak
Jiwa tak sebening yang di ingin
Selalu saja ada ego angkuh yang mencokol dalam hati

Wajah yang elokpun akan menua lalu mati
Kuatnya tenaga semakin berkurang lalu mati
Melimpahnya kekayaan tak akan menemani saat deraan sifat mati

Bangga mana yang hendak dipertunjukkan
Tak bisa lakukan itu dalam dunia nyata

Keinginan berTuhan selalu meninggi
Masih tetap manusia belaka
Manusia tak luput dari salah

Tak bisa lakukan itu walau mau
Lakukan sesatnya iblis sungguh tak bisa

Selasa, 07 September 2010

Gila Sekali

Kegilaan macam apa ini
Pengharapan akan dosa
Sembunyi saja dari dunia
Ketakutan dosa ternikmati badan

Pencarian

MencariMu dalam tiap hamparan sajadah
MencariMu dalam lipatan quran
Semakin jauh berjalan kutemui likunya jalan

Goda-goda iblis menari merayu
Tuhan terasa jauh untuk direngkuh
Peiman juga dibujuk iblis agar berbelok keimanannya
Sajadah dan quran belum sempat dilipat bujuk-bujuk iblis bergenderang
Pencarian akan Tuhan tak pernah berhenti

Walau kadang jatuh namaMu masih terucap di hati
Pencarian yang panjang ku mencintai akan prosesnya
Tuhan, dalam ketidakberdayaan lirih memohon
Kuatkan iman,
Dekatlah Kau bersamaku segera

Tak Bisa Lepas

Ada suka yang terendap
Hari itu kulihat kau naik motor sewaan
Kupalingkan muka takut lebih mencintai
Dari balik jendela angkutan umum kepang rambutmu terlihat kentara

Bila Tuhan persatukan kita akan bersanding
Bila tidak tak akan jadi percuma
Doa-doa selalu terurai
Jalan-jalan kebaikan yang selalu kita berdua tuju
Sayangimu tak bisa lepas
Suatu saat rasa akan pupus

Hancurkan

Ibrahim saja hancurkan patung-patung di istana Namruz dengan kapaknya
Sulaiman larang Bilqis sembah mentari
Muhammad menyeret arca-arca dari dalam kabah
Kini jelaskan penyembahan atas berbagai materi padat

Pikirkan pencipta yang dapat dilukis oleh mahluk
Penerawangan yang mustahil
Karunia yang terlalu mengada-ada
Hancurkan pola pikir kebendaan
Hancurkan ego jiwa
Sisihkan segera

Atas nama Tuhan Maha Esa
Ku memanggilmu dalam kerendah hatian
Pikirkan dalam ketenangan

Nyanyian Rakyat Dalam Sunyi

Kedinginan di kolong-kolong jembatan
Kesepian di rimbun taman-taman kota
Pelataran toko rumah tak bertuan
Pinggir rel-rel kereta api harmoni mimpi-mimpi

Adakah yang mencari kelaparan di pelosok desa kecil
Pesakitan terhempas tak berdaya di dipan goyang bambu
Bilik-bilik melawan megahnya bata-bata mewah
Petinggi-petinggi yang meninggikan hati
Pedasi yang tak bereaksi kala rakyat tersakiti
Melipat kaki berikan tepukan meriah saat konser mewah bergaung
Jeritan miskin terpantul begitu saja

Kemiskinan hanya dalam topik diskusi belaka
Tajuk-tajuk surat kabar ramai
Tapi tidak menetes hati kaum mapan
Mata-mata hati yang buta
Nyanyian rakyat di anggap orkestra sumbang saja
Matinya mata hati
Azab Tuhan lebih pedih bagi pemimpin tak peka akan rakyatnya

Tunggu siksaan Tuhan hari ini atau kelak di neraka

Kebaikan Sang Malam

Malam mencekam mengguncang dinding pekat
Kegelapan menyelimuti ruang-ruang jiwa
Sedih juga suka permainan keduniaan
Kekalahan menjadi alergi yang harus dihindari

Malam ini kelabu
Berserah saja pada Sang Esa
Kebaikan di mataNya belum tentu menyenangkan bagi jiwa
PandanganNya absolut

Tuhanku segalanya
Semesta di atur tunggal olehNya
Tak pantas Tuhan pencipta bergantung pada zat lain

Malam ini tafakur kalbu akan kuasa Tuhan
Baik buruk mata manusia
Galilah makna di dalamnya

Teruslah berjalan seberangi malam nan gelap
Yakinlah terangnya pagi akan tertemui

Bangun lalu tergugahlah di tengah malam
Susuri lorong-lorong dengan lolong-lolong doa pertolongan padaNya
Menangislah akan dedosa
Tumpahkan segalanya saat sunyi
Sebut nama Tuhan perlahan
Rasakan getaran
Malam akan menyibak tirainya
Di ujung malam akan ada pagi
Semoga terang terjangkau diri
Semoga cahaya Tuhan berkenan bersemayam

Jangan

Jangan ganggu
Jangan rindu
Jangan rayu

Dia masa depan

Jangan rusak
Cukup kerusakan bersemayam di satu jiwa

Cinta Itu

Ku tak bisa memberikanmu harta sepertinya
Pantasnya persandinganmu itu
Benci melihat sesuatu yang tak bisa dimiliki
Kerasnya usaha dirimu tak pantas untukku

Cinta selalu ada selama nafas masih berhembus

Rabu, 18 Agustus 2010

Utuh Percaya

Jika tak percaya hari ahir sudah kurengkuh kau dalam pelukan
Kunyatakan sayang yang terlarang
Kucumbui kau hingga berpeluh lalu bosan

Tuhan itu ada
Hari pertanggung jawaban itu ada

Nafsu-nafsu yang merecah membutakan sisi baik putih terajarkan sejak kecil
Kalah akan mengejar cinta terlarang itu bagiku tak mengapa

Memang ada sesak menggumpal di dada
Mengacuhkan pengap nafsu itu

Percayai Tuhan utuh
Kematian secara keTuhanan

Surga bukan bagi pendosa
Neraka bagi pemuas nafsu hembusan iblis
Daya upaya atas kehendak Tuhan

Biar saja merana tanpa cinta terlarang ini
Dunia semu lagi sementara
Bersama Tuhan
Penyembahan hanya satu

Luka Perih Itu

Ada sesak berbalut perih saat melangkah pergi
Harus dilakukan bila akan buatmu terhenyak sadar

Sepi tanpa siapapun
Gelap tanpa yang temani
Langkah-langkah harus diambil

Suatu hari atau kapanpun mengharap penyadaran itu

Pergiku hari ini
Bersama Tuhan maka tanyakanlah padaNya kembalikah aku padamu?

Furqon

Titip pesan untuk ayah karena ku tak mau lagi bertemu dengannya
Peluk sayang bagi bunda sampaikanlah ku tak bisa berkunjung untuknya
Doaku pasti mengalir bagi mereka

Diri bukan lupa diri atas mereka
Sadarlah duhai ayah bunda dari perilaku tipu daya penghuni neraka yang kekal
Ku sangat mencintai mereka
Sikap hitam mereka menjadi batasan jelas bagiku

Tegakkan hak dan pupuskan kebatilan
Hukum Tuhan tidak ada yang abu-abu
Ketetapan Tuhan mutlak tak bisa diperdebatkan
Mungkin kembali diri ini saat mereka bersimpuh lagi pada Tuhan

Rabu, 11 Agustus 2010

Kesal

Haruskah kubanting telepon genggamku saat tak ada deringan darimu?
Merindumu dengan sekujur badanku
Mengharap kau mendekap lalu memeluk walau sekejap
Tapi lacur saja yang terjadi

Kau memutus jalinan yang telah terajut
Menyapapun tidak
Berpesanpun tidak darimu
Ketakutan yang tak beralasan

Aku bukan racun
Aku bukan biadab
Aku sekedar perindu
Masa kecil yang terampas dengan siksaan kegetiran

Kekesalan yang menumpuk memenuhi ruang sanubari
Baiklah, kini ku melepas satu-satu rasa padamu
Terlalu getir harapan padamu

Berkacak pinggang saja
Ludahi saja
Banting rasa penghormatan

Telepon genggamku kusimpan tak akan pernah kubanting keras

Gerombolan Anjing

Anjing tertulen itu kalian
Pezina, pembunuh, pendusta bahkan pencuri yang tak sudi bertobat
Kalian anjing-anjing yang merasa tindakan kalian paling benar

Aku anjing juga menurut kalian
Setidaknya aku anjing yang berjalan ke cahaya Tuhan walau tertatih
Aku ibarat anjing di kisah Ashabul Kahfi
Lekaslah bertobat

Kasar-Kasar

Bahasa terkasar tercetus tapi tidak dalam hati
Gaya canda terkasar tapi tak dari hati
Hanya berusaha ke arah yang lebih baik
Segalanya berproses
Aku hanya tak berkasar di hadapan Tuhanku

Aku Tak Berkuasa

Sujudlah pada dunia maka akan celaka
Pujalah akan dunia maka terbelenggu rantai iblis
Hanya keTuhanan satu fokus

Mati dengan kerendah hatian
Dunia yang merendah dirikan jiwa
Mati secara berTuhan
Iblis-iblis neraka tak akan kuasai kepercayaan yang satu
Bunuhi raga tapi hatiku tidak akan

Tak Mengapa

Bintangku meredup tak mengapa
Kilaunya tak lagi silaukan mata tak mengapa
Keduniaan yang tampak biasa tak mengapa
Bersama Tuhan arungi segalanya ketentraman di rasa

Pantun Tak Berbalas

Bila pantun yang terucap tak bisa ku membalasnya
Ramadan terihlas ingin tersaji
Kau putih tanpa salah bagiku

Luruslah berTuhan
Puasa ibadah rahasia manusia dengan Tuhan

Senin, 09 Agustus 2010

Mobile Phones

Rang all the time
Nailed to speeding pace
Can not move
Short message which makes uncomfortable

Small buttons pressed forcing the heart to think
Blinded brain skinning technology

Kisah Satu

Sepi terasa menikam dada
Sakit tapi tiada luka di badan
Perih sendiri
Kesepiaan
Kesendirian melawan Rahwana

Angkuhnya mereka
Sesatnya mereka
Aku masih sendiri

Jumat, 06 Agustus 2010

Sapalah

Cinta masihkah kau di sana?
Telah lama tak bertegur sapa
Perih
Berderit
Dirimu memang tak kuasa termiliki
Sayang masih ada

Masih beradab juga bernorma
Cukup menyapa saja

Keabadian

Potret-potret yang tak bertuan
Sketsa wajah yang tertuang menyakitkan badan
Kenangan-kenangan suka juga duka tersimpan pada pikir

Rumah yang berhawa kepanasan
Rumah yang berudara kedinginan
Surgawi dunia

Mereka bercengkrama seperti tak merasa bersalah
Gerah lagi jengah dibuatnya
Biar cinta yang akan membawa kerinduan yang tak bertepi

Airmata tak akan mengganti luka hati yang amat dalam
Semua kulakukan untuk kesadaran dirimu yang mengeras hatinya
Kembalilah berTuhan dengan baik maka kau akan mendapatkanku
Selama kau anggap Tuhan permainan
Maka aku terpaksa harus menjauh walau sakit terasa

Sketsa

Rumah arsitektur lama terlihat alami lagi sederhana
Rumah yang tak berarogan
Hati yang lemah lembut
Jiwa penuh ketegasan
Badan milik Tuhan

Hadirmu

Lampion menerangi perayaan
Nyala obor-obor menghidupi perkampungan
Dirimu membuat semangat jiwa menyala-nyala
Dirimu magnet positif hidupku

Begitu Saja

Bagaimana ku tak bersedih malam ini
Bagaimana ku tak menangis karenamu
Kau pergi tanpa kata buatku terus memikirkanmu
Gelisah tentangmu
Khawatir padamu

Malam berganti malam dan masih tak bisa tepikan bayangmu
Tetes airmata mengenangmu walau tak banyak terkecap kebersamaan
Lantunan lagu lama bersair kesedihan

Terpuruk
Tercampak
Kau tak melihat aku terluka
Kau berlalu layaknya jagoan
Tak ada kepedulian

Menggantung rindu pada manusia
Benci juga kesal bercampur duka saat berpisah
Kau sekejap begitu saja

Imajinasi Setan

Hentikan imajinasi busuk
Hentikan sekarang juga
Muak kuberhayal kejahatan
Jaga aku Tuhan dari bisikan setan

Off

It just things
So why must i care to you

Enought
Off

Memanut

Hajar saja segala rintang
Dobrak segala aturan mengikat jiwa
Langgar norma-norma
Buang petuah juga nasehat

Darah muda yang penuh gejolak
Cinta membabi buta
Cinta sungguh tak berlogika

Benci bila mengingatnya
Tertawa saja mengenangnya
Pecinta dunia kamuflase

Manusia tertipu
Manusia terjebak
Setan tertawa

Saat ini kutertawa
Waktu telah berlalu tak bisa terulang
Setan tak mengajak pada kebaikan
Ajakan setan untuk menjauhi Tuhan semata

Ingin kembali
Muak bersetan ria
Cukup sampai di sini saja tertawa seperti setan
Bersiap menuju cahaya apapun duka
Memanut sebelum mati menjelang

Bukan Untukmu

Bila masih ada prasangka
Endapkan saja di jiwa
Perlahan coba untuk maafkan
Perlahan coba untuk dekati Tuhan

Karangpun berlubang oleh deburan air
Ini adalah sebongkah hati yang terbuat dari air mani

Tak ada kasar
Tak ada angkuh
Mencoba jadi lebih bijaksana
Kulakukan semua untuk aku

Coba untuk menerima kekurangan
Jangan berbantah telah lelah
Aku berdiri di sini

Kamis, 05 Agustus 2010

Angkuh

Meracun dalam jiwa
Membusuk terkerubungi lalat-lalat hijau nan gemuk yang berterbangan
Mengeras laksana baja
Tak dengar suara Tuhan
Suara manusia yang lain di anggap kecoa busuk semata

Hati yang telah tersiram air keras
Hati yang mematung
Angkuh
Sombong
Hanya setan pemilik keangkuhan dunia

Rabu, 07 Juli 2010

Kunci

Persetubuhan tanpa ikatan ibarat minuman beralkohol
Memabukkan kian terasa merangsang begitu menggoda

Persetubuhan dengan restu Tuhan bak minuman bersoda
Merangsang sekejap nikmat sekedipan mata

Persetubuhan setelah bertahun pernikahan bak air teh seperti air putih
Hambar tapi penuh manfaat

Nikmat Sekali

Menguapku setelah beraktifitas
Menggeliatku
Terpulasku

Hati yang lapang tanpa dendam
Pikiran jernih tanpa ide kejahatan
Tertutupi hati juga badan
Jiwa yang tenang
Perut yang telah terisi
Batin yang terisi candu Tuhan
Kekayaan yang melegakan

Telah Selesai

Bagiku urusan mengenai dirimu telah selesai
Solusi yang ditawarkan harga mati berTuhan
Apapun alasan darimu segalanya bersifat kemanusiaan
Dirimu terlalu berlebihan menyikapinya
Berakal sehatlah hadapinya

Masalahmu tak kunjung selesai bila dunia patokannya
Bom waktu yang siap meledak
Bagiku telah selesai

Kalian yang memilih jalan keduniawian
Tunggu saja kelak di hadapan Tuhan
Bersama dalam dunia tanpa Tuhan
KeTuhanan hanya dijadikan topeng dunia belaka
Bagiku telah selesai

Hati tak kunjung pikir terus memikirkan
Darah itu kental
Masih manusia yang berhati manusiawi

Ahir sair dunia
Bagiku selesai

Minggu, 04 Juli 2010

Cintai

Bolehkah aku mengecupmu?
Ijinkan aku memelukmu
Terlalu lama menunggu
Penantian membuat jemu

Parasmu melemaskan sendi
Senyum ramahmu buat tak berdaya
Segala yang ada pada tubuhmu buatku mencinta
Dirimu dunia penuh cinta

Segalanya tak akan kekal
Rasanya seakan tak bisa ditolak
Cintai secara mengendap lebih baik
Kau tak boleh terlalu dicinta

Jujur kau tak bisa kumiliki
Cinta terlarang

Lost Spirite

Tak ada lagi semangat hari raya
Lenyap begitu saja
Mengebu-gebu kala malam sebelum pesta
Tapi tidak tiga tahun ini

Ada yang menghambatnya
Saat kembali mempertuhankan dunia
Rumah terasa semakin sempit
Ini bukan hasrat yang itu

Telah mengetahuinya sejak lama
Sebagian penghuni rumah dberpura-pura tidak melihat
Jiwa masih punya mata hati

Mungkin harus pergi sejenak untuk menyadarkan

Rindu pada semangat itu
Semangat hari raya

Dustai Sanubari

Haruskah merubah arah haluan demi penguasaan dunia?
Bimbangnya memilih jika dunia dipertaruhkan

Belokan dunia yang salah kaprah membutakan mata hati
Membutuhnya bisik hati

Tak rela melepas lurus dari sanubari

Pada Lukisan Kata

Gambaran mengantarkan menuju padamu
Kata-kata walau tak sempurna menunjukkan sinar padamu
Bila kesedihan terus meronta mencoba menepis
Bahagia yang ingin terus terajut terus dipintal

Denganmu duka cita bisa menyabarkan
Terakui masih sayangi tapi tak patut disampaikan
Lihatlah lukisan-lukisan kata
Banyak makna terurai

Pada lukisan kata
Hanya ingin bahagia

Mengarang Bebas

Haruskah kuputar waktu agar aku bisa memilkimu
Haruskah kubunuhi sekarang setiap orang yang menjadi pendampingmu

Tak ada kemampuan lakukan semua itu
Terima saja yang memang tak bisa direngkuh
Tinggalkan jentik-jentik berbintik berbulu mata yang lentik
Sampai jumpa cinta

Kamis, 01 Juli 2010

Saru

Dekat namun tak terlihat
Jauh selalu tersebut
Silau pada fatamorgana
Takjub akan kemilau

Keterlaluan sekali

Sakit itu pasti
Pembelajaran bagi sendiri
Jiwa tak sebusuk itu
Benar teramat malu
Masih menjunjung Tuhan

Lisan telah berucap
Tindakan telah jelas terlihat
Kekuasaan belum termiliki
Kesal akan lakunya
Menurut dada hadapinya
Menggelengkan kepala akan tingkahnya

Sangat keterlaluan

Bila mau telah menoda banyak dunia
Tapi dunia bukan sekedar pemuasan akan nafsu juga sahwat semata
Mata-mata yang seolah saru
Kebaikan terdekat diabaikan
Keburukan nun jauh dipanggil lalu didekapi erat-erat

Keterlaluan

Pantas

Aku patut dihawatirkan
Layak untuk diperhatikan
Sepadan untuk dijaga agar tak sasar jalan

Kepantasan senatiasa berikan petuah kehidupan kebaikan
Sangat membutuhkan

Bejat Lagi Bebal

Tawa-tawa renyah tertutupi dubur para pengidap pedofilia
Memangsa menjerat polosnya bocah-bocah ingusan

Apa yang dicari
Memikirkannyapun membuat mual
Membayangkannyapun membuat muntah

Dewasa yang bejat
Usia yang tak bermanfaat

Sakiti bocah
Lukai anak-anak bawang
Menggoreskan perih pada anak-anak bau kencur

Tak ada lagi menari di atas kahyangan
Tamasya meniti bintang musnah sudah
Sahwat tak terarah pedofilia memberangus senyum-senyum cita

Otak yang di ketiak
Akal yang kosong
Menelusup melalui cerita juga dongeng
Merayu dengan pelbagai kegemaran juga gaya hidup

Puaskan birahi
Mematikan pesona penerus negeri
Bejat terlalu bebal

Kamu Yang Mencacah

Ingin kutulis sair indah untukmu
Tiap kali selalu kuusahakan
Tapi betapa sulit temui kata-kata indah

Kaulah nafsu yang mencacah jiwa
Nafsu dunia yang menipu daya seolah segalanya boleh terlakukan

Tak ada sair indah untuk nafsu sesat
Walau terkadang telah menjadi kawan yang teramat dekat

Suara Suram

Ringkihan kuda yang mengganggu
Percikan air hujan sangat bising terdengar
Suara-suara yang tersampai tak indah

Batin sedang marah
Pikiran tak jernih
Membenci semua suara

Lagi kalut

Cabang

Tak habis pikir pola pikir
Pencipta yang bercabang
Tumpang tindih pengaturan alam

Pencipta haruslah kuasai segalanya
Tanpa ada persamaan
Pencipta tanpa awal juga tanpa ahir
Pencipta bukan mahluk
Pencipta tak bergantung kepada ciptaan

Satu Yang Satu

Mengangkangi hari dengan sepi
Merutuki sendiri

Terbanglah ke Eropa
Jelajahi Antartika
Susuri lorong-lorong Amerika
Singgahlah di Australia
Melangkahlah di Asia

Sepanjang perjalanan ke lima benua tawa kiasan belaka
Ada kosong merancu pada jiwa
Hati satu
Terkekang kesendirian
Safari yang tak melegakan
Ternyata selama ini telah terabaikan hadirnya Sang Satu

Maafkan
Jika sampai saat ini baru sedikit saja mengunjungi relung-relung damai Satu

Ingin Pulang

Aku ingin pulang
Pulang kepada Sang Pembuat Keputusan
Pulang secara elegan

Bukan menyerah akan hidup ini
Ajakan keTuhanan tak digubris
Kelelahan menantinya
Kematian kutunggu
Walau tak diminta mati pasti datangnya

Tak sanggup lagi menyadarkan
Kumati secara berTuhan

Rabu, 30 Juni 2010

Pagi

Bintang tak lekang
Bintik-bintik kecil di atas langit
Malam yang telah berganti terang
Pekat malam berubah dengan terangnya
Mataharipun tampak

Sejuknya hawa
Embun tampak bertebaran bebasahan
Keoptimisan harus dipegang
Raih hidup bagus di pagi hari ini

Ignore

Tiba-tiba teringat padamu
Dirimu yang telah bersanding resmi
Bahagialah

Lem

Yang sudah terekat susah untuk terlepas
Yang hampir terlepas masih bisa kembali

Terkadang ikatanpun bisa putus
Terkadang ada titik keajaiban
Misteri hidup tak bisa diterka

Ajaibnya dunia sulit untuk ditebak

Keras

Belum juga berubah
Masih sama seperti dulu
Sang pengeras
Sang pengetus
Sang penindas

Waktu belum mampu merubah tabiat
Ternyata masih sama
Waktu perubahan belum cukup

Tabiat busuk-busuk pasti terganti
Kelak kedatangan tak akan lagi sungkan

Dalam Penglihatan

Pagi ini terlihat jelas terang
Sang bapak terlelap pulas di atas rel usang bawah gerbong tak terpakai
Nyaman dalam nyenyak di pagi menjelang siang
Pekerja yang bekerja
Petidur tak tahu apa yang hendak dilakukan

Orang kaya berpura-pura menjadi miskin
Angin pagi terbawa hawa menjarah sendi-sendi sukma
Mencari dalam riaknya berteriak dalam keruhnya
Langit telah menjadi atap
Tanah menjadi lantai

Tatapan tak mengandung arti
Telah terbias arungi dunia ini
Telah menajamkan penciuman
Mempekakan pendengaran
Memperjelas pandangan mata
Melembutkan budi pekerti
Mengeraskan tekad juga kemauan

Membiasakan terlama dalam lelap
Kehidupan dunia yang dijalani
Penglihatan manusia dalam keterbatasan

Error Protected

Peuting anu jempling kacida siga ucing
Poek mongkleng gandeng nendangan kaleng

Ningal bulan anu sapasi asa geuning bau tarasi
Aya hate anu sorangan ceurik saukur borangan

Disauran henteu ngalieuk jiga anu teu gaduh uteuk
Dibejaan kanu alus teu asup teu abus

Saha maneh ayeuna kari remeh
Teu wawuh da katembongna jiga raja galuh

Rabu, 23 Juni 2010

Minus

Gunung tertutup salju
Hujanpun turun
Perjalanan mendaki mencari sesuatu
Bebatuan bukit halangi langkah-langkah

Keinginan melihat pemandangan pupus
Cuaca tak bersahabat
Benda-benda di sekitarpun luluh lantah hancur berantakan
Apa yang terjadi dengan alam ini

Hutan yang rindang
Sungai laut nan jernih airnya
Jalanan tertata bersih nan rapi
Mimpi keindahan yang dirusaki kejinya tetangan tak beradab

Mumipun marah
Mayatpun bangkit
Udara kian terasa tak sejuk
Polusi bertebaran
Pengikisan tanah merajarela
Bongkah es menyusut drastis di kedua kutub

Minusnya laku manusia
Laku busuk yang dikelola

Sayang Sekali

Mata yang
Mulut yang
Ingin menulis tapi tak tahu apa yang akan tertulis
sebelum terbuang sayang
Sair ini kuberi judul sayang sekali

Semoga ada tawa atau senyum saat membacanya

Orang Gila

Bukannya hendak menjadi gila tapi kagum akan orang gila
Di selokan sambil telanjang membersihkan badan masih mengingat Tuhan
Orang gila penuh polos lagi suci
Orang gila jujur kehilangan kewarasannya

Di jalanan tertawa lagi bicara sendiri

Lihatlah orang waras yang berlaku bak orang gila
Menyuap lalu menerima suapan kemudian saling berbantah-bantahan di depan pengadilan
Moral yang hilang
Jujur yang terserabuti materialistis juga keduniawian
Orang waras tapi gila hatinya

Menggelengkan kepala seolah tidak percaya dibuatnya
Kegilaan hati sungguh teramat keterlaluan

My Sweetheart

Kau sayangku seorang
Kau dambaan hatiku selalu
Kau yang selalu ingin kucinta selamanya
Kau tak akan tergantikan dari dalam hati
Bersamamu kedamaian selalu

Mencintaimu membuatku semakin penuh rasa sayang padamu
Inilah kasih
Karena kaulah kekasih hatiku

Manusia Dasi Yang Gila

Bait demi bait hingga jatuh bersimpuh
Keadilan yang terasa menyesak rakyat jelata
Hukum yang disumpal oleh lembaran-lembaran nominal
Hukum yang benar-benar telah buta
Pembuat kebijakan berlomba menumpuk dunianya sendiri
Kampanye-kampanye dijadikan ajang tipu daya semata

Nurani yang tak bersuara
Mata hati tertutupi oleh arogansi
Paradigma saling berebut kekuasaan seperti kontes ratu kecantikan
Politik keculasan dan kecurangan terusung

Makan babi-babi dalam kubangan lumpur
Menari bersama anjing-anjing hutan terjulur lidah-lidah
Bergelantungan bersama para monyet di atas pepohonan

Lepas saja semua busana
Telanjang seperti para binatang
Pertontonkan kemaluan-kemaluan karena hilangnya rasa malu
Kebanggaan lalu busungkan dada saat langkah iblis terturuti
Lagu penindasan terdengar ibarat simfoni klasik
Bumbungan asap pembakaran dosa-dosa coba disembunyikan

Dunia yang bisa ditipu
Tapi tidak dengan Tuhan
Hanya manusia berTuhan saja yang benar-benar miliki kemaluan
Manusia tanpa Tuhan berlaku kesetanan

Manusia dasi penuh ketidak warasan
Manusia dasi tak beretika
Manusia dasi tak berempati
Manusia tanpa rasa malu

Kelak hanya setan tuhan yang dituju

Senin, 21 Juni 2010

Melapuk

Tubuhpun akan menua
Kulit akan mengeriput
Paras yang penuh pesona akan termakan umur
Harta melimpah bila mati tak terkubur bersama jasad
Jabatan yang mengenal pensiun

Alangkah terbujuk nafsu mengikuti mau sahwat
Melodi dunia mendayu-dayu

Penuh Perasaan

Rasa yang tak bersenjata
Hati yang tak bergerigi
Rasa yang diciptakan Tuhan
Sakitnya terasa perih dikedalaman

Walau tak berkata
Rasa sangatlah perasa
Terisak tersedu
Kepada siapa hendak mengadu

Banyak manusia keji
Manusia yang singkirkan hati nurani
Sikap manis terpapar dusta belaka
Hentikan saja

Bila beralih haluan
Tunggulah azab Tuhan

Suatu Harapan Rasa

Tak tahu apa kau merasa atau tidak
Tak paham apa kau mengerti segalanya tentangku
Semua tak kuasa kutanyakan

Kau terhalang satu tembok tebal lagi kokoh
Isarat-isarat rasaku telah tersampaikan untukmu walau tak genap kuutarakan
Ingin menjadi seseorang untukmu
Buatku lebih berarti untukmu

Ingin selalu jadi yang terdekat denganmu
Kusadari kita berdua manusia
Kekecewaan ada
Tapi mengertilah aku selalu ingin bersamamu

Sentuhlah
Dekaplah
Peluklah
Atau paling tidak tegur sapalah aku

Aku mengharap sejentik rasa darimu
Tak banyak cinta yang kupinta
Kucoba mengerti kau berada di balik kokohnya tembok
Kusemilirkan hati melewati selah-selah dan berangin

Sangat memohon
Satu pengharapan cinta kasih darimu

Dosa Sendiri

Masih bersama bintang menyanyi dan menari
Berdansa sepanjang malam sampai pagi datang
Tak pedulikan cibiran mengkerdilkan
Lagi tak bersama Tuhan

Tak malu akan dosa
Hujatan manusia tak terdengar
Ini jalan sendiri
Urusan sendiri
Cinta yang ingin terbagi milik sendiri

Dosa khutbah para pemuka agama di atas mimbar
Gemerlapnya dunia telah meninggikan hati
Tak malu lagi akan dosa

Manusia macam apa

Dosa sendiri
Siksa kelak anggap dongeng belaka

Manusia macam apa

Dosa sendiri

Pembeli

Pudar memudar warna pelangi
Jeroan daging yang tercampur cabe rawit juga tomat
Sekeras usaha memikat hati dan cinta
Nomor selular tak terbalas
Melupakah dia?

Sentuhan-sentuhan kerinduan telah diunjukkan
Pudar letih bak hilangnya pelangi
Aroma nan keras ibarat oseng daging yang pedas
Potret-potret ini tak bisa lenyapkan kerinduan

Hanya menyentuh lalu memeluk yang bisa memuaskan dahaga rasa
Membeli cintamu
Sulit membelinya
Terlalu berada di tingkat tinggi

Tak Boleh

Lantunan doa yang terucap untukmu
Ini tak boleh
Ini tak boleh

Saat melihat wajahmu
Rasa miris di dada
Sakit sekali
Ini tak boleh

Kau tak kuasa termiliki
Ini tak boleh

Tak Jelas

tuhan laksana manusia
tuhan butuh sesajian
tuhan berjenis kelamin
tuhan butuh tempat tinggal
tuhan miliki kerabat

Keanehan
Tak jelas
Tak mengerti
Bencana bumi yang ada tuhan ribut dengan kerabat
Betapa kecilnya sifat tuhan
tuhan yang kekanak-kanakan
Tak jelas

Polosnya sembah yang terhatur melalui perantara
Seolah tuhan cacat
Ketahuilah
Tuhan Maha Kuasa
Tuhan Maha Kekal
Tuhan Maha Esa

Tak jelas tuhan-tuhan itu

Masa Lampau

Apa yang telah terlakukan hingga ada penitikan airmata
Kekesalan menyulut panas dan menegang
Perbedaan pendapat tak terelakkan lagi
Hukum mana yang akan terpegang
Hukum manusia yang selalu berubah
Hukum Tuhan yang konsisten sepanjang masa

Belajar dari masa lampau
Kristal beku tak mengkristal keras di sudut hati
Asasi yang didengungkan segelintir manusia kadang langgar hukum Tuhan
Itukah letak kebahagiaan?
Menghujat hukum teguh Tuhan karena membelenggu langkah kebebasan
Kebebasan dunia sementara

Tiliklah masa lampau
Saat bahtera Nuh berlayar air bah tenggelamkan manusia-manusia
Ketika Luth diselamatkan dari langit yang dijungkir balikkan
Atau kala Musa beserta Harun seberangi lautan merah
Bala tentara Firaun di belakang karam oleh menyatunya lautan

Kebebasan manusia yang ingin jadi tuhan dunia
Jika hidup setelah mati tidak ada mengapa mayat-mayat dibakar atau dikubur?
Mengapa menangisi kenalan yang mati?
Surga neraka tercipta bagi siapa?
Pertanyaan-pertanyaan yang selalu diacuhkan

Berpikirlah tanpa emosi
Jernihkan damal berpikir
Masa lampau sebuah pengajaran

Sabtu, 12 Juni 2010

Cara Cinta Yang Beda

Cara mencinta yang berbeda
Tapi cinta yang tulus lagi setia

Tak pernah memuji
Romantisme sulit terpeluk
Sayang yang menyata dalam hati
Sorot mata katakan akan cinta

Bedanya cara mencinta
Tapi inilah gaya cinta sendiri

Kalung

Relung dalam dada merindu
Untukmu
Padamu

Melingkar setia bak kalung
Inginkan kamu kadang terhuyung
Tetap menyayang sampai rokok menjadi puntung

Bintang Halusinasi

Kebintangan yang mengecil
Memuja dunia terlalu penuh
Bercengkrama dengan hubungan sesaat tanpa terikat resmi
Talah menjadi pencandu
Ketergantungan mengarah kepada penyimpangan

Bintang yang silau akan sinarnya sendiri
Bintang yang terhalusinasi

Insomnia

Lebih baik tak tidur saja
Jika tertidur harus berilusi kotor sebelumnya
Untuk apa memejamkan mata bila pikiran terkeruh titah-titah kepornoan
Lewat tengah malam badan telah lelah
Matapun sayu kecapaian

Otak menyuruh bermastubarsi dulu
Alam bawah sadar mengatakan beronani dulu
Lebih baik tetap membuka mata daripada mengotori dengan sampah
Mengosongkan perut dari fajar sampai petang
Mengingat Tuhan secara penuh

Kembalilah ke arah Tuhan
Pikiran-pikiran kotor melemahkan badan
Persetubuhan saja yang menjadi guru
Persandingan tak selesaikan masalah
Ada yang salah dengan otak

Otak terlalu sering berpikir porno
Benci itu
Rindu itu
Memahami yang harus dipahami
Malam ini terkantuk

Biarlah
Menunggu hingga tertidur tanpa seks dan bercinta

Takut Tak Kuat Iman

Sebenarnya takut berdosa
Ajakannya memburu membujuk merayu mengkasatkan hati dan mata
Takut tak berTuhan
Dorongannya menyuruh melawan
Iman ini tingkat yang awam
Merancu sendiri bergumam

Terkekang dalam pengendalian diri yang ingin sasar
Bukan orang yang barbar
Masih menepis bujukan sesat dengan gemetar keringat dingin
Melemaskan sendi-sendi memporakkan asa dan ingin
Iman laksana roda pedati yang naik turun
Takut tak kaut iman mengurun

BersamaMu Tuhan
Pelindung penjaga iman

Headache

Pusing yang ganggu kepala
Pening yang menyiksa

Sakit tak menahan
Kaupun mati

Dinginnya Cuaca

Jangkrik jangan memanggil hujan
Suhu sedang dingin badanpun kedinginan
Katak berhentilah mengorek
Seolah tak henti mengejek

Bukan tak butuh hujan tapi kondisi badan yang lebam
Jiwapun temaram
Mata yang mengantuk badan yang keletihan
Tanpa beraktifitas belum sempat untuk makan

Badan tak tersiram air
Dinginnya rasa air
Cuaca beranjak siang
Tetap saja hawa dingin yang berkalang

Ingin beranjak pergi saja
Menuju tempat bahagia
Tidak berlari dari masalah
Di sini berkutat dengan kesamaan masalah

Tak mendewasakan
Menjemukan
Pembahasan yang berputar tak berujung
Masih menggigil di sini termenung

Dingin
Penghidupan baru yang diingin

Selasa, 08 Juni 2010

Setan Alas

Setan-setan bergentayangan menunggu kiamat tiba
Para setan sedang mencari kawan untuk kelak temani di neraka

Menyesal

Endapkan rasa yang menggumpal dalam dada
Alirkan raga yang merancu dalam jiwa
Masih di sini membekas
Menyalin luka yang tak kunjung padam

Adakah bintang yang terang
Haruskah terjerembab nista
Tanya yang tak harus ditanyakan
Tanya yang telah tahu jawabannya

Terbang saja kitari dunia yang semerbak indah
Berlari saja lalu bilang bahwa tak kuat lagi
Diam menyepi dalam sendiri
Coba tepiskan ragu juga mimpi yang jahat
Mematung terpaku
Menatap kosong dalam ketakberdayaan

Sesal

Dosa rasa bersalah
Langgar titah-titah
Ampuni
Terangi hati

Tuhanku
di hening malam kumengaku

Bak Medusa

Kalian memuakkan
Tayangan televisi yang tak layak disaksikan
Nasehat kebaikan yang diabaikan

Lelah sekali perjalanan bom waktu ini
Kebusukan dalam kepura-puraan
Mangkatku tinggal menanti waktu saja

Pujaan serta rasa bangga dulu terhanguskan begitu saja
Kacau sekali kalian
Ludahi saja pendosa-pendosa
Usir para pendosa

Tunggulah gairah Tuhan bila keyakinan Tuhan masih terpegang
Ibadah yang tersaji terseret kotor laku dusta-dusta

Pengajaran kejujuran melupakah?
Ajarannya untuk siapa?

Tangis telah menguap
Getir bercampur kesal yang tersisa
Tak sudi jadi medusa
Kalian saja penganut Tuhan tapi bermedusa

Pergilah jiwaku
Mangkatlah ragaku
Bawalah keimanan yang terajut penuh kepayahan lagi kesusahan
Bimbinglah
Dalam kesah kuberTuhan
Dengan nafas satu-satu mencobaku teguh berTuhan

Berikan kebaikan senantiasa bagi yang teguh percaya padaMu

Sepatu Kaca

Puteri dalam dongeng yang selalu ternaungi keberuntungan
Ahir cerita bahagia bersama sang pangeran
Sepatu kaca identitas hayalan sang peri

Berkacalah dengan ketegaran
Tak usah sembunyikan kekurangan dari sang pangeran

Sang pangeran hanya mencinta sepatu kaca
Pemakai tanpa sepatu kaca terabaikan

Bawa saja sepatu kaca ti kau tak akan miliki tulusnya rasa
Dunia yang dipuja

Cintailah bekas-bekas arang yang membekas pada wajah
Tanda hitam sisa kegigihan perjuangan hidup

Putri sepatu kaca masihkah dicintai bila telah kehilangan sepatu kacanya

Penikmat Ketulusan

Lagu macam apa ini terdengar gersang dan sumbang
Nyanyian mengalun tak berirama
Harmoni tak terasa malah lebih menyakitkan telinga para pendengar
Turunlah dari atas panggung lalu tutup mulut untuk bernyanyi

Tomat-tomat busuk telah dipegang menanti untuk dilemparkan
Berhenti menyanyi atau terhentikan oleh lemparan tomat busuk ini

Penilai sedang menikmati
Penikmat ingin terpuaskan

Lagu yang indah terbawakan hanya oleh biduan terbaik
Tulus saat menyanyi lebih menyamankan para penikmat

Penikmat-penikmat butuh akan ketulusan berkarya juga berseni
Jujurlah lalu rabalah hati-hati penuh kedamaian
Lagu-lagu akan terdengar merdu dengan kebaikan budi

Kamis, 03 Juni 2010

Terbaru

Satu titik kemudian dua titik
Satu koma lalu dua koma

Hidup perjalanan waktu yang berputar
Masa yang tak dapat terulang
Beralihlah jadi lebih baik lagi
Berubahlah jadi terbaru dari segala yang baru

Sampah Hanya Aku

Sair ini hanya aku
Kalimatnya dimengerti olehku
Bukan egois
Sair ini pencurahan rasa diri

Sair yang sampah
Sampah tak berbau
Hanya untukku
Bila tak mengetuk hati
Biar saja
Hatiku tak sekeras baja

Sampah

Sair yang sampah
sair yang memuakkan
Kata-kata sampah
Ini sampah

Tak Bisa

Masih belum siap
Garis-Nya pada hidup ini adil
Mungkin bila terpaksakan akan arogan
Masih belum siap penerimaan diri aka hal itu

Bersabar saja
Berjuang saja
Dia tahu yang terbaik
Serahkan segalanya pada-Nya
Berbaik sangkalah pada-Nya
Tutup mata lalu resapi keagungan-Nya

Sedih-sedih menyeruak mencacah hati
Tak bisa mau sendiri
Jalan hidup berbeda
Jalan hidup milik Sang Kuasa
Takdir milik-Nya

Hanya kebaikan semoga jalan hidup yang terjelang

Dangkal

Mau itu
Takut berdosa

Ingin ini
Tak mau ke neraka

Hendak ke sana
Takut akan Tuhan

Ternyata iman masih lemah
Tuhan,kuatkanlah keyakinan ini

Kecil

Saat bersujud kala duduk bersimpuh
Ada perasaan berkecamuk tapi melompong
Mau menangis tapi tak ingin
Kosong kecil sekali diri juga jiwa di wajah Sang Pencipta

Resah

Hati yang gelisah jiwa nan merana
Lumpur bercampur amukan rasa dalam dada
Mata yang berkaca-kaca mengisyaratkan aroma tangkai kaktus

Nyeri sekali tertohok guliran tak berperikemanusiaan
Tak tergubris tapi sangat terasa melekat pada jiwa
Pelarian-pelarian kecil dari dunia yang mengambang

Denyut-denyut tanpa rasa
Nadi telah terputus
Debar jantung tak berdetak
Jiwa sedang kosong

Resah ini
Inilah keresahan jiwa kecil
Resah di lorong gelap tanpa cahaya

Perayaan Tak Putih

Kasih yang putih
Perayaan yang suci
Gaung slogan belaka
Sepanjang tahun hancurkan negeri
Sepanjang masa berusaha lakukan genosida

Intimidasi juga keangkuhan ditebar
Perayaan tak putih
Kidung yang tak menggema di langit biru
Perayaan tak mendamaikan
Damai hanya di hati kelompok tertentu

Manusia bumi ciptakan damai juga ketenangan
Ingin tahun ini benar-benar damai nan putih dalam perayaan

Coklat

Ini bukan cinta kumenolak rasa
Ini bukan rindu gundah yang menggebu
Haruskah kutolak segala rasa yang kian memagar

Tangisku tak berarti
Tawaku tak bermakna
Riuh yang mengganggu
Mata yang tak tajam
Hati yang tak pernah peka

Tak manis lagi rasa cinta
Coklat yang tak lagi berasa coklat
Hambar

Kemuliaan Perang

Kami tidak suka perang
Kami dilarang untuk perang
Kami dilarang untuk berbuat keji juga munkar
Kami tidak diperbolehkan merusak dan menghancurkan

Lihatlah kami

Kami mempertahankan tanah kami
Kami kuat
Senjata tercanggih pecandu perang tak bisa lumpuhkan semangat kami
Bagi kami Tuhan senjatanya
Tuhan Sang Esa
Tuhan yang benci peperangan
Kami terserang maka kami melawan

Perang kami sejati
Perang kami beradab

Kami bukan pengemis
Kami miliki kemuliaan
Kami bukan penikmat perang

Keyakinan terpatri di jiwa
Tembok penghalang juga rumah-rumah pecandu tak surutkan perjuangan
Dengarlah lalu mengertilah dengan damai
Ini tanah kami
Kami bertahan dan melawan atas serangan

Bunuhi kami
Jumlah kami tak akan berkurang
Pertolongan Tuhan turunkan serdadu-serdadu dari langit yang mencengangkan
Kami dan Sang Tunggal

Jumat, 28 Mei 2010

Hancur

Badai yang menerpa bumi
Air laut tertumpah ke pesisir
Ahli-ahli agama terjauhi para bocah
Pelajaran etika juga norma dalam agama coba disisihkan
Penerapan teknologi dicoba gantikan etika juga norma

Etika pelajaran asasi
BerTuhan terlalu pribadi
Surau kosong
Majlis terisi anak-anak masa lalu nan ujur
Gereja tak lagi nyanyikan pepujian
Dupa-dupa tak terbakar lagi
Kitab usang termakan rayap

Dunia hancur
Bumi lebur
Planet bertabrakan
Meteor berjatuhan dari langit
Manusia-manusia berlarian tunggang langgang
Pendosa terkubur di kerak kotor Tuhan

Pengharapan

Cempedak yang buat tersedak
Markisa yang buat mencinta
Salak yang buat terselak
Dirinya yang buat tergila

Larang

Dilarang bercinta di sini
Di sini sedang berduka
Kasmaran yang terlarang
Percintaan duka cita
Tutup kisah cinta

Demikianlah Adanya

Demi Adam kuberjalan
Demi Hawa maka kumencintaimu
Demi Tuhan kupegang buhul agama sangat kencang
Tak ada keraguan
Sedih yang senantiasa diabaikan
Aku manusia berhasrat yang beragama
Nilailah
Demikianlah adanya

Penantian Kekotoran

Lelah jiwa dalam penantian yang teramat lama nan panjang
Terpaku untuk penungguan yang terkadang menjemukan
Bosan saat tak kuasa menyapa
Letih tak bergairah
Dengarlah telinga-telinga
Gunakan mata hati-mata hati

Pipa-pipa rokok yang tak lagi mengepulkan asap rokok
Pengetahuan akan racun pada sebatang rokok
Menghancurkan meremukkan badan
Tak lagi mau menunggu bila tersiakan
Kecewa memahkotai sekujur jasad
Tak ada lagi yang harus diperbuat
Penantian yang berujung kelelahan ini sangat tak sepadan

Menelan tangis duka nestapa
Sesak lagi perih
Penguasa alam Maha Tahu yang tersembunyi
Mauinya tapi tak bisa
Rasa jahat melubang besar dalam rapuhnya penantian
Keindahan fana semoga tak membuat sesat
Beban yang berat serasa bukit menindih dada
Kesadaran samawi menahan rasukan hasutan kekotoran dalam penantian ini

Bintang tahu
Semesta juga paham
Melangkah tinggalkan penantian ilusi semu dunia belaka
Pelarian ini haruslah penuh restu Tuhan
Kecupan selamat tinggal tak sudi mendarat pada kening
Pipi ataupun mulut tak mau tersentuh
Sisi hati hitam mengigau mengharap terjamah
Berlari terus menghindar dengan airmata yang tak bisa tertahan lagi

Meninggalkan kerinduan semu menyakitkan sekali

Rabu, 26 Mei 2010

Bertegangan

Mata sipit mata yang bulat menarik
Pipi yang montok bibir merekah menggoda
Kulit badan bersih merangsang
Pantat yang berisi
Senyuman yang teramat manis
Betis juga lekukan paha yang menggiurkan
Badan yang berjalan tegap tak membungkuk bak mahluk kahyangan

Tutur yang santun
Segalanya membuat cinta
Merindu
Menyayang
Peluklah
Dekaplah
Sentuhlah
Sangat benar menginginkan

Perang Itu

Perang tak boleh menghukum bocah menjadi kejam
Bocah tak boleh kehilangan kegembiraan bermain
Perang yang susah

Bocah tak dapat tersenyum apalagi tertawa
Bocah ketakutan dan kebingungan
Apa yang diperebutkan
Penghormatan akan dunia yang sementara

Hidup selayaknya saling berdampingan juga hormat-menghormati
Perang yang buat bocah menangis dan trauma
Perang yang berdarah

Masa kecil yang tak miliki ruang berjelajah
Pembenaran yang dilontarkan atas perang tak serta merta perang terhalalkan
Perang bukan teritorial bocah

Apapun peperangan jenisnya selamatkanlah bocah dari sana
Penikmatan bocah akan perang suatu hal yang salah
Perang saling membunuh,
Perang penuh keculasan,
Ada kelicikan juga dendam ajaran jahatnya tentang perang

Tutup Usia

Kehilanganmu membuat lemas sekujur badan
Airmata menitik di kedua pipi
Kesederhanaan yang terpampang
Kebersahajaan yang termiliki
Segalanya akan merindu padamu

Lantunan lagu darimu
Tulisan sair yang lugas juga jujur tak tergurat lagi
Pita-pita hitam lantunkan sairmu saja
Kenangan abadi tentangmu
Lirik yang menyentuh tegas
Lirik yang sederhana mudah teringat

Kehilangan ragamu
Sairmu abadi bagi dunia

Tertawai

Kemiskinan yang dipertontonkan
Kemiskinan yang terdigitalkan
Marjinal terpinggirkan penguasa negara
Nurani penguasa hitam oleh globalisasi

Kemana lagi miskin-miskin hendak mengadu
Kala penguasa tergelak bersama hartawan-hartawan
Kemiskinan yang dijauhi bahkan ditenggelamkan
Membunuhi orang-orang miskin tapi tidak membunuh kemiskinan

Miskin yang terhapus beserta manusia-manusia
Penguasa tak berhati tertawai saja
Kemiskinan yang dijadikan pariwisata tanpa berniat membantu
Kegilaan dunia

Dunia yang tak berpihak pada kemiskinan

Marah Merah Putih

Katulistiwa yang kepanasan membakar pepohonan rindang para tetua
Asap mengepul menghalangi pandangan mata mengaburkan hari yang telah siang
Lelah menghentikan waktu yang tak bisa kuhentikan
Apalagi yang kau mau,setan
Terbakar membara terpanggang amarah tingkat tinggi

Keletihan
Kecapaian
Terkatung-katung
Termenung seperti patung

Enggan melepas status sosial
Takut kehilangan hak warisan
Harta yang tak akan dibawa ke liang lahat
Tak berani melangkah bersama
Tak berani mencoba berTuhan lebih kuat

Sampai kapan hidup berlumur dosa
Hidup bertopeng di tengah masyarakat
Manusia dapat terbohongi
Biarkan membara merah

Serasa ingin berlari tanpa henti
Robohkan dinding-dinding pembatas yang menghalangi
Usahlah menangis tersedu
Hakikat hidup di muka bumi bukan untuk bersedu sedan belaka

Menangis saja seperlunya dalam ayunan kaki yang terus berlari
Tersenyumlah dengan lebar kala temukan lentera hati itu
Marah merah putih beralih damai merah putih

Merendah

Ibadah pada Tuhan sungguh berat kala nafsu masih bercokol di badan
Menangis inginku saat sujud sembah yang ingin terantar serasa ada yang menahan
Masih belum sempurna beribadah

Masih belum puas berTuhan
Cukup menulis
Cukup berkeluh kesah

Keledai-keledai masih yang terbodoh
Manusia bukan keledai
Berubahlah sebelum kiamat tiba

Perbaguslah berkeTuhanan

Pembedaku

Saat hati dan pikiran tak bersinkronisasi lagi
Yang terucap bukan yang ingin dikatakan
Pulang kembali ke rumah setelah berkelana sendirian
Membenci penghuni rumah saat maumu tak terakomodir

Kini kau pulang walau tak tahu topeng apa yang sedang kau kenakan
Obrolanmu yang seolah menambah beban ayah ibu
Tangisan sesalmu yang palsu
Duniamu yang belum berkeTuhanan

Apalagi sekarang yang ingin kau paksakan
Pengakuan atas laku-laku laknat
Tangan dan mulut belum dapat merantaimu dari sesat
Kau terlalu berteman dengan manisan dunia

Semoga yang tersaji akan menjadi pembeda kelak di hadapan tuhan
Teguhku berTuhan
Teguhmu pada jalan setan

Minggu, 09 Mei 2010

Orkestra Hati

Nyanyikan sekali lagi lagu penggugah semangat
Bangkitkan lalu kobarkan semangat membara
Manusia-manusia yang memakai topeng kebagusan
Mulut nan lancang hati yang jalang
Robekkan lukai hati teramat perih

Hati bukanlah karang
Hati yang rapuh akan hasutan jahat
Kebaikan akan selalu menang
Kejahatan yang akan kalah
Kenyataanlah yang membuktikan
Kejahatan yang menikam kebaikan

Orkestra hati pembawa kejujuran tak pernah cukup
Hati yang kotor penuh nafsu
Mulut yang berkata-kata manis menipu
Simfoni tak sampai di kedalaman hati
Alunan orkestra terhalang dinding-dinding kesombongan
Dinding yang dibangun oleh sang tukang yang sangat lihai juga ahli
Dialah setan

Desa

Gunung yang megah
Sawah hijau membentang menunggu masa panen
Kabut pagi yang menggelitik sukma
Udara pagi yang membuat rindu sanubari tersepi
Tetangga yang ramah
Bergandeng tangan dalam bekerja
Jalanan desa laksana jalan bebas hambatan
Ternak-ternak turuti pemiliknya

Tak ada angkuh
Damai nan tenang suasana
Desaku yang desa
Tak mau keliling dunia
Dunia yang arogan

Singgah saja di desaku
Kemanapun jauh melangkah
Langkah rindu selalu akan desaku

Tekno Yang Melalaikan

Ada temanku yang terlalai akan pekerjaan
Temanku terlalu mashuk akan jejaring sosial pertemanan
Fokusnya pada tekno yang sekejap
Terbengkalailah kerja-kerja
Nasehat belum mempan menembus hatinya
Otak juga hatinya sedang asik bercanda dalam tekno

Berwaktulah temanku
Tekno yang mengguruimu
Seharusnya kaulah yang memegang kendali itu

Suara Keroncongan

Suara-suara kematian memanggil
Burung-burung bangkai menanti badan menjadi mayat
Lapar yang mengoyak tubuh
Tubuh yang hanya berbalut kulit bertulang
Perut membusung tapi bukanlah kekenyangan
Masih adakah remah-remah makanan yang tersisa
Air-air pelepas dahaga belum tertemukan

Di belahan dunia lainnya makanan juga minuman terhamburkan
Nurani yang belum terketuk
Berikan suapan-suapan kecil pada suara yang keroncongan
Sukurilah nikmat Tuhan yang terkecap
Linangan airmata belum cukup sukuri nikmatNya
Puji juga ibadah serasa belum cukup

Cukupilah kenyang atas suara keroncongan
Terbanglah menjauh burung-burung bangkai
Tubuh manusia bukan untuk santapan burung-burung terkejam
Atau hati manusia serakahkah yang kejam
Hati yang membuta walau mata melihat
Berakal tapi nol besar berempati

Serakah yang mengikat
Lupa diri juga egois bertahta di hati
Kejamnya manusia berhati neraka lebih rendah dari burung pemakan bangkai

Kamis, 06 Mei 2010

Jahat Yang Maya

Banyak pikuk yang merusak didalamnya
Goda-goda nafsu menyimpang menyelinap di sela-sela kabar berita
Banyak insan yang bukan sifati insan tak peduli berapapun usianya

Jahat-jahat dalam gelas maya merangsang lagi memabukkan
Mencari pegangan
Walau ada kesal meradang
Tak terbersit apa yang dikehendaki
Cacian tak layak disematkan
Matikan saja dunia maya jika masih menggoda
Dunia sementara
Nikmat-nikmat lenguh yang panjang nan fana

Pegang hati terdalam lalu rasakan Tuhan yang jangan sampai terbenam
Maya-maya harusnya berkarakter penuh faedah
Maya-maya janganlah seperti keharaman yang jaddah

Kau Bukan Sejatiku

Berharap banyak kau bisa menjadi penerangku
Kau yang mampu pelitai kisah hidupku
Nasehat-nasehat yang melantur kala hati membutuhkannya
Bila tak mampu berpetuah mengapa tak menjadi pendengar yang baik saja
Kita ternyata berbeda jalur
Tak kusesali mengenalmu
Kita berteman namun bukan yang sejati

Hewan Bukan Binatang

Bintik naluri yang memaksa untuk merubah keadaan
Walau bukan binatang insting telah membawa menjadi seperti hewan liar
Hewan yang berakal juga berperasaan
Telah lama ku mencari seorang bidadari
Untuk temani hidup ini
Dahulu campakkan setelah bercinta lebih dari semalam
Meminta kembali menggeleng tak mau

Bila terlalu memilih
Ku memilih yang berTuhan saja sekarang
Terlalu mengharap banyak kepada manusia
Pengharapan yang tersia nan kecewa
Peliknya mendapat teman sejati
Likunya mencari teman yang sehati
Yang kumau bukan jawaban menyakitkan hati
Yang kuinginkan petuah penuh renungan juga semangat
Ternyata betapa terjalnya pertalian
Hewan yang berasa bukanlah binatang

Berbeda

Matamu memancarkan perubahan
Tak akrab lagi
Kau pribadi yang tak kukenal
Seperti tercuci otak perilaku yang kau tunjukkan
Terlalu kaku dalam bersikap
Tak senyaman dulu
Dewasa bukan berarti melupa akan bersenang-senang
Ku tak mengenalimu lagi saat ini

Rabu, 05 Mei 2010

Suasana Hatiku

Pelukan sayang untuk anak
Kebahagiaan dan kebanggaan untuk anak
Tahta,harta kala tergenggam
Tangan tak saling bergandengan lagi
Kerenggangan ini tak membuat terkejut
Dunia berputar
Keduniawian di mulai perjumpaan lalu harus ada perpisahan

Kecewa manusia yang terkelola dengan baik
Kecantikan terbaik saat kumenikahimu
Kebahagiaan terhebat kala kau melahirkan anak pertama kita
Kesedihan terdahsat saat dunia kita hancur berkeping-keping
Kembang di taman layu dan mati
Kemana saja suara hati yang telah lama kunanti
Lorong-lorong gelap karena tak ada penerangan
Hati yang tertanam di jiwa tak boleh gelap
Pertambahan usia yang memapankan kehidupan
Bahagialah hatiku walau bagaimanapun dunia hampiri
Perasaan terdalam yang selalu berbisik jujur untuk lakukan yang terbaik
Logika yang hanya hasilkan rumus juga angka
Teori-teori hidup yang kadang penuh kebosanan
Menjemukan sekali penantian ini yang kadang jatuh lalu terjatuh kembali
Bosan memahkota
Datanglah lekas lentera jiwa
Terangilah kaki ini menuju kepada suara hati yang terjujur

Kamis, 29 April 2010

Rumahku

Duniaku
Dunia yang kurekat dari keping-keping airmata
Ada sesal
Makin dalam tersungkur mengertilah akan arti sukur atas nikmat Tuhan

Dendam Rindu

Sakura telah memekarkan bunga-bunganya
Pesona pepohonan menyamankan suasana
Nun jauh di sana menara Tokyo pancarkan keelegannya
Kereta api tercepat serasa meyayat mata hati

Ku bersedih tanpamu
Dua kali musim dingin terlewati tanpamu
Butir-butir salju yang turun merontokkan pertahanan diri
Pesona unik negeri ini tak membuat lupa
Ku mendendam rindu
Rindu dendam padamu

Terpinggirkan

Dasi-dasi berkata inilah yang terbaik
Menikam kaos-kaos oblong yang seharusnya diayomi
Pendalihan atas nama kemajuan dan globalisasi
Pembenahan yang merusak lingkungan dan alam
Dasi-dasi fasih berbicara bahasa ilmiah dan internasional
Menggiring opini ke jalan pemikirannya yang sasar

Dasi-dasi memaksakan kehendak
Kaos-kaos oblong berpeluh coba bertahan
Bukalah dasi juga hati
Tanyakan pada hati kaum pedasi
Adakah kaos oblong dikenakan di balik kemeja yang dikenakan

Dasi-dasi bangunlah negeri dengan kerendah hatian
Rendah hati seperti dulu pedasi tanpa dasi

Pertanyaan Rasa

Cintaku kemana akan berlabuh
Cintamu bersauhkah padaku
Diriku sayang padamu sedari dulu
Tak sempat terucap saat itu banyak kumbang mengelilingimu
Tak sempat tanyakan apakah kaupun merasai rasa

Pandangan mata kita beradu belum cukupkah tanda itu
Duniaku yang ada cintaku padamu
Telah banyak kirimkan sinyal suka padamu
Tak berbalas
Mungkin rasamu bukan untukku

Baiklah rasa
Tak lagi tanyakan cinta-cinta padanya
Belasan tahun memendam hasrat
Tak lagi bersair tentangmu
Dirimu tak mengetukiku walau ku telah menari di hadapanmu

Sair Kosong

Menggubris tanda yang sekedar pertanda belaka
Menyombongkan segala yang seolah dapat terpegang
Dunia teranggap mampu terarungi secara sonik
Angkuh itu meracuni tubuh
Menggerogoti hati yang bening sedari bayi

Harta-harta telah menjadikan lupa
Ingin berhenti saja dari hidup dunia
Pesona dunia terlalu menyilaukan mata-mata
Sejenak merenung hidup bukan penyerahan tanpa usaha
Berjuang meraih Tuhan walau galau lagi terlentang
Ajari ilmu tentang kesejahteraan alam

Cukup saja tentang berbuat kesetanan
Setan yang setan pembawa kesesatan

Tolong Lolongkan Kehidupan

Tolong tancapkan nisan secara perlahan
Tolong turunkan keranda secara perlahan
Tolong taburi bebunga wangi di atas pekuburan
Tolong ingin hidup lagi di muka bumi

Lolong yang tersekat di tenggorokan
Lolong yang menggantung pada tengah langit
Lolong yang hanya kosong tanpa arti
Lolong kesiaan

Hidup yang telah usai
Hidup dunia yang tak bisa terulang reinkarnasi kebohongan belaka
Hiduplah yang lurus para calon mayat
Hiduplah di garis Tuhan

Rabu, 28 April 2010

Keujuran

Buah nanas yang kejam
Memakannya membuat ngilu gigi
Buah kedondong yang harus ditahan
Harumnya merangsang penciuman
Cuka yang membuat mata terpejam nikmat
Kopi yang legit tapi berkafein
Sambal yang membuat perut melilit
Segalanya halal dikonsumsi

Tubuh yang ujur tak mampu menampung makanan
Ketuaan terjadi
Organ-organ tubuhpun menua
Organ yang tak bisa berbohong
Keujuran yang kurangi kekuatannya

Tak Tersambung

Ada yang salah dengan diri
Kala resapi ayat-ayat Tuhan seperti ada pemberontakan dalam diri
Kelalaian dalam ibadah
Kemalasan dalam hidup
Ada yang salah

Tuhan
Tolonglah keluarkan belenggu iblis yang mengekang

Masa Kecil

Kembalikan saja masa kecil yang kalian rebut
Masa kecil yang dulu penindasan
Masa kecil penganiayaan
Masa kecil penghinaan
Masa kecil penuh penyiksaan
Masa kecil penganaktirian

Banyak luka di tubuh menjadi saksi
Ada juga luka di hati yang belum kunjung hilang
Ingin ulangi masa kecil tanpa kalian yang pernah goreskan perih
Kembalikan saja masa kecil yang belum puas diarungi

Dalam sesak mengenang
Dalam perih tersadarkan
Masa terus bergerak maju tanpa bisa bergerak mundur

Kalian yang membuat luka di masa kecil jangan lukai lagi
Perlawanan sengit berperang mempertahankan tak ingin terluka lagi
Ini bukan dendam dengan kelapangan hati tak bisa diubah masa-masa lalu itu
Masa kecil kenangan yang tiada untuk terkenang indah

Menjauh

Menjauh dari dosa
Tak mau berkubang dosa
Suka yang sesaat mencacah raga menusuk jiwa
Ibadah yang terkait dengan payah tak mau tergadai karena menjadi pemuja dosa
Ibadah-ibadah yang tersembah belum sempurna
Alangkah celakanya bila menjadi pemuja neraka

Jauh hanya itu saja kemauan batin
Menjauhi segala maksiat beserta penikmatnya

Baik Yang Tak Mudah

Terlalu banyak intrik untuk jadi orang baik
Terlalu banyak penjilat hingga kebaikanpun menjadi telat
Lalu lalang seperti hujan salju yang turun dari langit
Memputih indah namun mendinginkan segala
Butir-butir salju yang frontal menggunung mengeras menghalangi jalanan
Membuat licin
Membuat hidung mimisan
Menggigil tubuh menahan dingin
Merusak baik yang akan tercetus

Tak bisakah sedikit saja berikan kebaikan tempat
Baik yang akan merubah hak yang tak semestinya
Baik yang akan menyadarkan para jahat dan para dosa

Selasa, 27 April 2010

Bagaimana Rasanya

Ku tak tersenyum hanya sedikit terenyuh
Inilah jalan Tuhan
Kau kehilangan aku
Tapi kau mencoba tegar
saat ini ku masih bersamamu tanpa bicara
Terlalu arogan juga angkuh padaku
Itu menyakitkanku
Bila kupergi tak akan kembali

Lalu mengapa tak kau utarakan sayang sekarang sebelum terlambat
Sayang tak terucap menyakitkanku
Karena Tuhan ku memilih tak berkata-kata
Bila berucapku kalian memutarbalikkan fakta kepadaku
Itu menyakitkanku

Dengan kesedihan kumenulis
Dengan Tuhan kumengharap kuasaNya

Sedikit Kata

Bagaimana caranya meyakinkan hati
Itu saja yang tertulis dalam pertanyaan hidup

Hari Biasa

Hari yang seperti hari
Memaknainya tak mengguratkan arti
Sukma yang lemah
Angin yang terhirup di pagi hari
Pagi yang hanya sekedar pagi
Seharusnya berarti

Semunya Suka

Berikan gambaran kebahagiaan
Tuangkan dalam sketsa-sketsa nyata
Ejawantahkan dalam kenyataan yang dilakoni
Ingin belajar
Belajarlah
Ingin menangis
Menangislah
Ingin tertawa
Tertawalah
Ingin membunuh
Cegahlah ingin itu
Melenyapkan kehidupan hal yang dibenci Tuhan

Lalu dimanakah suka
Bila sukanya dunia hanya semu mengapa harus bersuka
Pahamilah tentang bahagia yang pantas
Kepantasan gembira yang terpancarkan kelak saat berjumpa Tuhan
Berbahagialah dalam keduniaan dengan sepantasnya

Air Hujan

Rasa yang terpendam menghimpit badan
Sesaki ruang hati yang ingin senantiasa lapang
Kilatan halilintar menyambar suaranya menggelegar
Hati yang kecil
Mata-mata yang sembab

Hujan menetesi sudut-sudut gersang
Tapi basahnya tak sampai di sini
Hanya suara petir yang buat cemas dan takut
Terduduk memegang lutut
Lemasnya jiwa hancurkan rasa
Keterpurukan membuat bosan

Tautan-tautan peristiwa yakinkan untuk tinggalkan derita
Kedukaan cukuplah sampai di siniTak ada linangan airmata lagi
Biarkanlah bermandikan hujan tanpa tersambar halilintar
Nestapa mengerucutlah
Pergilah duka-duka dari lubang jiwa

Minggu, 25 April 2010

Alam Raya

Tembokpun bertelinga
Dindingpun berbicara
Jujurlah para penghuni bumi
Jangan sampai alam raya yang membongkar semua kebohongan
Jangan tunggu alam murka
Bicaralah tanpa dusta
Tak ada tempat di sisinya
Tiada celah di hatinya
Kejujurannya menyakitkan
Itulah perkataan yang benar
Lambat laun setiap insan akan mengerti

Rasi-Rasi Bintang

Bila bintang tak lagi bersinar
Cahayanya kalah benderang daripada bulan purnama
Walaupun bintang miliki cahaya sendiri
Bintang berjauhan satu dengan yang lainnya
Walau banyak bintang di langit bila tak menyapa kekuatan sinarnya tak kentara
Bersatulah bintang
Bentuklah rasi-rasi bintang sesering mungkin
Tandaskan bahwa bintang yang kecil miliki sumber cahayanya sendiri

Jumat, 23 April 2010

Kotornya Jiwa

Bau sampah plastik terbakar terbawa angin
Aroma sungguh tak mengenakkan
Membangunkan kembali dari rasa kantuk
Sampah-sampah plastik jangan lagi dibakar
Wangi yang tak harum
Kedua mata telah kecapaian
Ketakutan bila lampu dipadamkan
Sebelum terlelap terbaca halusinasi-halusinasi kotor pengantar tidur
Belum bisa mencegah kuatnya
Sungguh sampah diri
kotornya jiwa yang diciptakan

Petarung Sejati

Senjata-senjata diletuskan ke udara
Kerumunan terberai kocar-kacir dibuatnya
guyuran air disemburkan untuk membubarkan barisan
Mobil-mobil baja bermoncong dikendarai menakuti orang-orang
Membunuhi
Melukai
Menggilas badan
Tak cukup juga lalu atom-atom dijatuhkan dari angkasa
Rubuhkan gedung
Hancurkan negeri
Mencerai-beraikan keluarga

Wahai penghancur dan penindas
Anak kecil itu masih berdiri
Seratus empat puluh senti bertinggi
Tanpa masker menutupi wajah
Ikat kepala senada berwarna hijau dengan baju bergaris putih yang dikenakan berkibar tertiup angin
Bercelana katun agak tebal
Bersepatu lusuh pada kaki-kaki yang kuat
Sorot mata tajam dengan wajah yang bening nan jernih khas bocah kecil
Tangannya memegang katapel kecil di kantung celana bebatu kecil
Ini bukan bunuh diri
Ini tanah kami
Ini bukan dendam karena pemilik bermobil baja membunuhi tiap keluarga
Ini kesadaran berjuang tanpa takut

Secara berTuhan bocah melawan angkara yang hendak merampas tanah negerinya
Keluar lalu sembunyi dari terjangan peluru
Sebelum azan asar berkumandang di Aqso bocah tergeletak bersimbah darah
Tentara musuh menyeret tubuhnya menggali lubang menyembunyikan dari dunia
Ada harum wangi dari bekas-bekas kematiannya
Tentara musuhpun memegang sisa darah yang tercecar
Ini tidak bau amis darah
Ini bak parfum Perancis
Tentara musuh kebingungan

Kebenaran siapakah yang benar
Kebenaran yang dibawa olehnya atas titah penguasa negaranyakah
atau kebenaran yang dibawa bocah sang petarung
Kebenaran yang benar milik Sang Esa
Azan asar selesai diperdengarkan menciutkan nyali sang tentara
Sebentar lagi datang petarung-petarung sejati lainnya

Ini tanah sang petarung
Ini bukan tanah sang tentara

Kisah Kun Dan Kin

Hentikan saja bila semuanya serba mengada-ada
Tak perlu bersilat lidah jika itu salah
Memangnya kau anjing yang tak butuh pakaian
Memangnya kau laki-laki yang tak butuh vagina

Kau perempuan
Kau bukan penyuka sesama jenis
Bekunya hati
kerasnya kepala

Kun laki-laki yang bijaksana
Berbadan kekar berjiwa satria
Datanglah beramai-ramai kepadanya
Mintalah uang padanya

Pasti jawabnya penuh kejujuran
Tidak ada uang kecil apalagi uang besar
Berpura-pura banyak uang padahal kerontang di sakunya
Wahai perempuan jangan tergoda kepadanya

Jangan berikan vaginamu kepadanya
Berikan saja semua kepolosanmu kepadaku
Hanya untuk Kin saja
Karena Kin yang bisa memberikan bermiliar kehangatan

Walau badannya tidak kekar sekekar Kun
Walau jiwanya tidak sesatria Kun
Tapi tetap sama
Sakunya sekerontang Kun

Rabu, 21 April 2010

Buta Tuli Bisu

Ku tak melihat
Ku tak mendengar
Ku tak berkata
Untukmu yang menginginkanku menjadi seperti ini
Haruskah sembunyikan kebenaran dari halayak karena kau yang lakukan
Alasan apa hingga kau buatiku menjadi pendusta
Kau bukan saudara lagi
Kau bukan kawan lagi
Kau bukan manusia lagi
Saudara,kawan dan manusia sejati tak ajarkan ilmu kebohongan
Kau berteman iblis neraka
Ku tak berdaya
Ku tak berkuasa
Jangan membutakan mataku lagi
Penat menulikan telinga lagi
Tak perlu membisukan suaraku lagi
Atas nama Tuhan kulihat kebenaran
Kudengar suara Tuhan
Akan ku berbicara suara kejujuran

Kekesalan

Enyah saja kau dari hadapan
Telah muak melihat laku
Simpan bual omong kosong itu
Mulut yang berbuih dan berbusa segalanya tentang penyimpangan lagi dosa pada Tuhan
Kemaluanmu hanya ditutupi sehelai kain tapi tidak dengan rasa malu pada Tuhan
Malu pada Tuhan telah kau hapus dengan riang dan senang
Bermashuk bersama setan-setan berbalut manusia
Skandal-skandal yang kau sulap jadi kebiasaan
Hilang akal lagi gila
Kau paksa dengan congkak seluruh jelata tersenyum dengan kuasa yang termiliki
Bodohi jelata tanpa sadar kaupun tertololkan akan senyum dan tawa yang terpasang
Rakyat tidak munafik
Hanya para pemimpin yang korup
Rakyat tidak bodoh
Hanya penguasa yang culas penuh tirani tanpa berkeTuhanan

Terlalai

Kaos kaki kaos dalam yang belum terpasang
Jadikan kuurung terbang melayang
Kulukis segala kesah dalam hitamnya bayang
Inilah hidup yang tak mudah diterka para cenayang
Senandung rindu berkumandang diperdendang
Penerka nasibpun mengharap kasih Sang Penyayang
Bodohnya mengangguk pada peramal yang merekapun kesulitan meluruskan kasih dan sayang