Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari: Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari : Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Sabtu, 29 November 2025

Tidak Bisa!

Tidak bisa!
Tidak bisa untuk jatuh cinta
Dia yang buatku mengemis rasa
Teganya dia
Remukkan dada
Saatku penuh pinta
Penuh harap bisa terwujud
Tetapi dia bilang "tidak bisa!"
Setelah sekian lama

Tidak Bisa!
Aku hanya di anggap candaan
Aku hanya di anggap pelarian
Bercanda dia dengan diriku yang punya perasaan
Berlari dia dari dan menertawakan cintaku dari kerasnya kehidupan
Ucapan dia yang menghujam
Kecewa pada dia
Dia yang terus mempermainkan sayang

Tidak bisa!
Lalu dia hadir untuk siapa?
Seolah aku bukan pilihan yang pertama
Dia memperumit semua
Dia berkelit pada rasa
Padahal solusinya teramat sederhana
Dia memberi maka aku berlari pada cinta
Aturan-aturan diterapkan
Rindu dia saat perasaannya menginginkan
Kupikir cinta ini tanpa syarat
Karena dia pantas diperlakukan dan dipeluk erat-erat

Tidak bisa!
Dia berkata "bukan siapa-siapa dan tidak ada hubungan apapun"
Lalu kebersamaan selama ini dia anggap angin saja?
Aku tak mau buat dia mencabik-cabik pemakaman bernisan mewah
Karena selama kebersamaan aku menempatkan dia pada relung hati terdalam

Tidak bisa!
Aku akan malu serta canggung saat jumpa
Jika tiada kertas beraura indah terkirim
Usahaku yang belum sekeras hati mempertahankan di pandangannya
Usahaku yang tak sepadan dengan usaha dia
Lalu hati bertanya
Cintakah dia?
Atau dia bermain hati dengan rasa?

Kamis, 20 November 2025

Dirinya Dan Realita

November 2025 begitu banyak kata setelah ribuan purnama tanpa bahasa
Bersamanya bahagia 
Tetapi dirinya yang memilih bermain pada kata percaya

Tertampar realita
Berlama bersama
Namun aku bukan pilihannya

Sedalam apapun rayuan
Serumit apapun perkataan
Dirinya tak bergeming pada pendirian
Cinta, sayang, percayanya sekedar ungkapan bukan perasaan

Kepergiannya menyisakan tanya
Adakah aku pada hatinya?
Ataukah selama bersama hanya sekedar sandiwara?

Menunggu dan menunggu
Ejawantah rasanya tak benar-benar ada
Bermain kata lalu selalu menyudutkan
Ucapannya selalu aib semua waktu yang telah dan akan terjalin

Kesedihan mengepang hati
Baginya semua kisah rasa merupakan aib
Bagiku semua perasaan penuh cinta juga kenyamanan
Mengapa dulu dirinya menghampiriku bila rasa kita tak seutuh hati dirinya jalani?

Realita yang kejam darinya
Saat dirinya acuhkanku
Saat diriku telah nyaman dengan keberadaannya

Rabu, 19 November 2025

Keterpaksaanmu Padaku

Meletus satu warna balon
Balonkah yang meninggalkan?
Atau satu warna itu yang lenyap?

Membara penuh gemeretak
Cintakah atau hanya canda belaka?

Percayamu padaku tak sungguh-sungguh
Kau tersenyum tanpa mau memberi
Aku yang terjerembab pada perasaan yang tak berujung

"Jika masih ingin bersama tak usah memaksa"
Begitu ujarmu
Akupun tersentak karena semua usahaku tak pernah bernilai di matamu

"Nyamanpun menghilang bila selalu dipaksa"
Itupun katamu
Akupun memejamkan mata menahan nyeri karena begitu tak berharganya rasaku di hatimu

Saat dirimu ingin
Saat dirimu mau
Aku berusaha dan tak sedikitpun terucap kata terpaksa
Karena saat sayang juga percaya maka rasa nyamanpun selalu ingin bersama

Tetapi dirimu selalu bercanda
Seolah denganku hanya sebuah keterpaksaan
Seolah ingin tahu semua potret juga kabarmu hanya gangguan bagimu

Aku yang terlalu sayang
Karena dirimu pertamaku
Tapi mungkin bagimu diriku hanya sebuah persinggahan

Keterpaksaanmu padaku
Membuatku merasa canggung
Apakah aku benar-benar diingini dirimu?

Kebersamaan kita pada derit-derit waktu membuatmu lelah
Perjalananmu hingga berbaur menjadi kita hanya membuahkan diam seribu bahasa tanpa senyum juga tanpa desahan
Kamu tersenyum tertawa terlihat tak akan merasa kehilanganku jika tak lagi bersama

Lalu bagaimana denganku?
Aku yang terpaksa menahan diri karena dirimu yang keterpaksaan saat bersama 

Minggu, 16 November 2025

Alibimu Remas Dadaku

Kuremas semua rasa
Membakar panas bak matahari
Segalanya ambigu
Singgasana mana yang akan tertuju

Jika bersamaku dirimu tak percaya
Lantas mengapa kau agung-agungkan pertemuan?
Seolah kau yang paling berjasa
Jika potretmu saja tak bisa menjadi kenangan

Alibi
Sejumput kalimat yang buatku merenung
Bahwa dirimu tak sungguh menyayangi
Kamu sekedar mempermainkanku dalam relung

Aku sayangi
Tapi tidak begini
Kamu menyakiti
Dan kini kamu yang menjauh berlari

Hanya satu pinta
Potret itu saja
Pelipur lara
Perajut cinta

Atau ada cinta lain darimu?
Hingga tak bisa beri untukku
Aku cemburu
Tapi kau acuh membeku

Minggu, 09 November 2025

Tak Mau Berbagi Potretmu

Lihat aku di sini
Terkulai lemas tak berdaya
Rasakan dirimu disana
Tersenyum bersama dunia dan pengalaman beberapa percintaanmu

Tak maumu sakitiku
Tak bisamu mengulitiku
Kau pintar sekali membalikkan pertanyaan
Seolah harus selalu aku yang mempersembahkan terlebih dahulu

Bersilat lidah bak kau yang paling menyayangi
Berdalih bahwa kau yang paling berjuang sekuat tenaga pada peraduan kita berdua

Bersikeras tak sudi percayaiku dengan memberiku foto terindahmu

Lalu aku bisa apa?
Jika kau telah berkata "ini bukan mencari alasan hanya kamu tak bisa!"
Apa bedanya ucapanmu itu dengan memang tak sungguh-sungguh mauiku?

Akhirnya kau putuskan pergi
Akhirnya kau cari petualangan bercintamu dengan jiwa-jiwa yang lain

Lalu aku bisa apa?
Untuk dapatkan foto terindahmu saja aku tak bisa dapatkan darimu

Keterlaluan rasamu
Jiwamu yang tak kunjung beri foto indahmu

Kamis, 06 November 2025

Ayah Minta Maaf

Maafkan ayahmu ini
Jika tak sesuai harapanmu
Ayahmu ini manusia biasa
Ayahmu yang belajar menjadi orang tua
Maafkan aku anakku!

Jika kamu tak pernah melihat ayah menangisimu
Jika kamu tak pernah melihat ayah bangga padamu
Jika kamu tak pernah melihat ayah tersenyum
Kamu belum melihat ayah saat sembunyi dan sendiri
Ada barisan-barisan doa, bangga, senyum untukmu anakku
Ayah hanya penuh ego untuk akui bahwa ayah secinta itu padamu

Jika yang kamu lihat hanya amarah serta arogan ayah padamu
Ayah hanya khawatir kehidupanmu di masa depan saat ayah tak lagi pegang pundakmu

Ayah minta maaf!

Dalam tidurmu, kukecup tipis dahimu

Selasa, 04 November 2025

Apa Ini, Tuhan?

Apa ini, Tuhan?
Aku tak berdaya
Kecintaan dunia meronta-ronta

Semalam indah
Semalam terbaik
Pada temaram beradu mekanik
Dalam diammu
Dalam lelahmu
Keringat kenikmatan

Kamu mengerang
Aku mendesah
Hingga lenguhan terusaikan
Pagi ini aku bahagia
Tidak demikian dengan kamu

Mengeluhmu
Serasa tak rela kucandui tubuh menawanmu

Kamu datang sesukamu
Kamu pergi semaumu
Menghilangmu!
Kembalimu!
Apa ini, Tuhan?

Cemburuku yang selalu dianggap gurau olehmu
Khawatirku yang selalu berlebihan di pandanganmu

Cintakah kamu padaku?
Rindukah kamu padaku?
Atau aku saja yang menikmati hasrat semalam tadi?
Sedangkan kamu hanya memejamkan mata

Apa ini, Tuhan?
Perasaan jatuh cintakah?
Atau
Sekedar permainan perasaan?

Minggu, 02 November 2025

Ingin Tapi Milik Tuhan

Kangen
Tapi
Inginimu secepatnya
Tapi

Aku manusia yang miliki nafsu, hasrat juga sahwat
Aku yang terkadang terbakar api cemburu dunia
Aku yang ingin semuanya menjadi apa yang kumau

Terjerat nafsu
Terlilit kemauan yang terus membelit badan

Rendah hatilah!
Lembut hatilah!
Ringan tanganlah!
Mudahkanlah urusan sesama!
Karena api neraka haram menyentuh para manusia berhati baik

Bersabarlah!
Karena Tuhan tahu setiap detail ciptaan-Nya

Jika semua rindu dan semua ingin terbentur tapi
Tuhan Maha Mengetahui kebutuhan makhluk-Nya

Sabtu, 01 November 2025

Batasimu Untuk Cintaiku

Aku yang meminta indahnya dirimu
Tetapi bagimu tak akan ada dan menjadi aib
Kau suruh pinta ke yang lain saja
Ide gila apa ini?
Yang kutahu saat ini hanya pesonamu

"Salahku!" Katamu terus berulang karena inginimu dalam kotak termewah

Aku inginimu 
Aku mau menjadi satu-satunya cintamu itu hanya padaku
Tetapi kau mengulur waktu hingga maumu saja terpenuhi dan membangun batas ketakbisaan

Aku terkucilkan dalam cinta tak bersambut

Kesedihan menganga saat tercinta memilih tak percayai ketulusan rasaku