Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Alam Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari: Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Pemandangan Jalan Raya Memecah Bukit Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia
Dari : Koleksi Pribadi Slami Pekcikam

Jumat, 31 Oktober 2025

Cintaku Semu Di Matamu

Mencintai ugal-ugalan
Menyayangi membabi buta
Merindukan hingga menjadi "bucin"
Kangeni senantiasa

Tetapi dirimu seolah "tidak" dan tutup mata untuk semua ini

Jika dirimu sudah tak mau
Sudahlah!
Jika dirimu enggak tahu
Sudahlah!
Aku yang kalah pamor dari para pecinta sebelumnya
Para pecinta yang mencumbu aroma pesonamu
Aku bisa apa?

Karena nyamanmupun tak ada saat bersamaku

Meronta
Meminta
Merayu
Semua hanya maumu
Lalu aku dapat apa?

Cintamu, rasamu dan semua darimu hanya tabir yang tak sanggup kubuka
Lantas kau balik bertanya seolah segala persoalan bersumber dariku

"Cukup tahu!" jawabmu saat ku tak penuhi apa inginmu
Lalu semua pengorbanan harus awalnya dariku?

Aku yang tercabik rasa
Aku yang menggila cinta

Dirimu yang melihatku hanya orang biasa!

Kamis, 30 Oktober 2025

Naifnya Cintaku

Manusia hidup dengan prasangkanya masing-masing
Sesakit itu
Senyeri ini

Beradu jotos sesama anak bangsa
Etika tak di jaga
Mengagungkan gelar, tahta juga harta

Trauma yang tak lekang
Masih membekas meski memaafkan
Sesakit ini mencinta saat tak lagi bersama

Begitu naifnya saat mencinta
Semua rasa tercurah untuknya
Meski tak tahu rasanya untukku itu ada atau tiada?
Atau rasanya sekedar dusta?

Saat mencintaku menjadi tererat dengan jerat
Bila kini mengingatnya menjadi tanya
Mengapa langkahku seperti itu?

Tak menyesal mencintaimu karena indah bagiku saat itu

Rasamu Penuh Tanya

Di sini saling berciuman bibir
Di sini berdua saling kecupi setiap tubuh
Meronta, mendesis, mendesah
Silih meraba lekuk tubuh hingga hasrat menggebu

Tapi kamu tak mau
Tapi kamu menolak
Bercanda saja
Seolah cumbuiku dulu tak berbekas padamu
Kamu kehilangan nyali
Kamu tak ada keberanian

Diam dan tak menikmati setiap pertemuan
Hingga erangan darimu tak terdengar
Karena kalah oleh ciutnya nyalimu

Sudah kukatakan rasa
Sudah berulang kali kunyatakan cinta
Rindu juga sayang telah tersaji di muka

Lantas saat balik bertanya
"Nggak tahu" jawabnya
Gamang, bimbangku pada raga

Benarkah dia mendamba?
Atau diriku hanya sebuah ilusi penuh canda?
Aku hanya ingin berdua bersama
Tak mau berbagi dirimu dalam rasa