Paradoks
Aku di matamu
Tersudutkan
Terjauhkan
Senyumi
Hindari
Selama otakmu tak sejalan nurani
Paradoks bagiku
Begitu banyak tawa
Begitu banyak karib
Sedih yang tak kentara
Paradokskah ini?
Jika menjadi baik tak pernah dihargai
Lantas haruskah menjadi rasa jahat?
Saat puji dunia menjadi candu dibanding puji tuhan
Sebuah paradoks kehidupan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar