Sang betina meninggalkan
sejenak anak beserta suaminya
Sang pejantan meninggalkan
sejenak anak beserta istrinya
Kedua sejoli memadu hasrat
dalam sebuah gubug
Kedua pasangan memacu
berpeluh di bawah rindangnya pohon
Di atas ranjang sebuah
penginapan hingga menimbulkan suara berderit-derit
Bertahun-tahun asyik lagi
khusuk menyembunyikan rasa
Lalu saat rasa terketahui
sibuk mencari sasaran tembak untuk menyalahkan
Gilakah rasa itu?
Dan jangan terperangah
kaget jika sekonyong-konyong ada yang mengetuk pintu
Lalu mengaku bahwa “anak
dari rasa tersembunyi”
Jangan sembunyi di balik
nama besar keluarga
Mungkin sang bentina dan
sang pejantan merasa rendah diri di hadapan nama besar keluarganya
Dan merasa keduanya
merupakan “pasangan yang tak berjodoh”
Sebuah ide gila yang terus
dipancangkan
Sejenak rehat karena rasa
sudah terketahui khalayak
Lalu tunjuk seseorang untuk
mengalihkan rasa yang coba disembunyikan
Merasa diri lebih tinggi
status sosial
Hei, gilakah?
Dalam Sang Esa ide status
sosial sudah sirna
Dan yang ada hanya jauhi
dedosa lalu patuhi Tuhan
Tanyalah jiwa
Rasa yang asyik
disembunyikan sudahkah “menyenangkan Tuhan?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar